Senin, 11 Mei 2009

Amang Mulachela, Potret Lemahnya Jaminan Hidup Atlet Berprestasi (1)


KENANGAN: Amang, bersama koleksi medali yang pernah diperolehnya.

UNTUK ukuran mantan atlet nasional, rumah Amang Malecha tergolong sederhana. Selain ukurannya relatif kecil, hanya 4 x 10 meter, kondisi rumahnya juga tak lebih baik dari rumah di sekitarnya.

Saat dikunjungi beberapa waktu lalu, (20/4), Amang terlihat santai. Seminggu lalu, pria kelahiran Pasuruan 9 Juli 1953 ini mendapat giliran masuk pagi. Sebagai pegawai di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pasuruan. Tepatnya, di bagian penarikan retribusi di kawasan terminal Pandaan.

Selain di rumah, sehari-harinya Amang memang berada di terminal. Seminggu masuk pagi, seminggu masuk siang. Begitu seterusnya. “Jadi, seminggu ke depan saya masuk siang,” terang Amang yang kini berusia 56 tahun itu.

Deretan piala tampak berjajar di sebuah meja kecil yang ada di sudut ruang tamu. Piala-piala itu bukan milik Amang. Tapi milik putra pertamanya, Faishol, 20, atas prestasinya di sejumlah ajang kejuaraan atltetik. Itu pun baru sebagian saja. Sisanya diletakkan di atas almari yang ada di ruang tengah.

Piala-piala itulah barangkali satu-satunya yang menarik dilihat di ruang tamu itu. Selebihnya, hanya ada satu set meja kursi yang mulai kusam. Serta satu almari dan seperangkat alat elektronik. Seperti televisi 17 inch dan VCD player yang tampak kurang terawat.

Di almari itulah, Amang menyimpan beberapa medali yang pernah diraihnya selama mengikuti kejuaraan. Baik tingkat nasional maupun internasional. Terdiri dari 13 medali emas, 2 medali perunggu dan 1 medali perak.

Saat ditunjukkan, saya sempat sedikit kaget. Sekilas, medali-medali itu seperti bukan barang berharga. Selain sudah terlepas dari gantungannya, kepingan medali itu terlihat lapuk. Udara yang lembab juga membuatnya tertutup jamur.

Padahal, dulu jelas perlu kerja keras untuk mendapatkan keeping-keping medali tersebut. “Makanya, sekarang jadi seperti ini,” ujar Amang sembari menyodorkan beberapa keping koleksi medalinya itu. Warnanya memang sudah kusam tertutup jamur.
Amang sendiri lahir dari sebuah keluarga tergolong besar. Dari tujuh saudaranya, ia paling bungsu. “Sekarang tinggal empat, termasuk saya,” ungkapnya menyebut para saudaranya itu. Tiga saudaranya itu kini tinggal di Bangil, Malang dan Pandaan.

Ketertarikan Amang dengan olah raga adu lari cepat itu sebenarnya terlihat sejak kecil. Selain menyehatkan, olah raga itu juga dinilainya lebih praktis dan murah. Artinya, tidak perlu alat lain untuk melakukan olah raga ini.

Namun, Amang sama sekali tak mengira ketertarikannya pada jenis olah raga itu akan mengantarkannya menjadi atlet nasional. Itu bermula keikutsertaannya mengikuti lomba balap lari. Mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kabupaten.

Yang membanggakan, hampir di setiap perlombaan yang diikutinya itu, Amang meraih juara pertama. Termasuk, ketika mengikuti seleksi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) yang digelar Kabupaten Pasuruan, 1962 silam. Saat itu, Amang berhasil mengungguli peserta yang lain dalam beradu lari cepat.

Perlahan. Karir Amang sebagai pelari cepat di nomor 5.000 dan 10.000 meter itu pun kian moncer. Berbagai prestasi di ajang seleksi yang digelar di beberapa kota, seperti Malang dan Kediri berhasil ia sabet.

Akhirnya, prestasi itu mulai dilirik Pengurus Daerah Komite Olah Raga Nasional (KONI) Jatim. Amang kemudian dipanggil mewakili Jatim di ajang pesta olahraga terbesar di negeri ini, Pekan Olahraga Nasional (PON) VII yang digelar di Surabaya, tahun 1969.

Meski baru pertama kali tampil di level nasional, prestasi Amang tak terlalu mengecewakan. Putra pasangan Salim Mulachela dan Mahnunah itu berhasil menyabet juara di dua nomor lari yang diikutinya di event tersebut. Yakni di nomor 5.000 dan 10.000 meter.

Sukses yang diraih Amang pada PON VII itu membuat KONI kepincut. Pada PON berikutnya, pria yang menikah dua kali ini kembali dipanggil mewakili Jatim. Kali ini, untuk tampil pada event yang digelar di Jakarta.

Pada kejuaraan yang digelar tahun 1973 itu, lagi-lagi prestasi gemilang diraih Amang. Dia berhasil menyumbangkan dua medali untuk Jatin. Satu medali emas di nomor 10.000 meter dan satu medali perak di nomor lari 5.000 meter.

Penyelenggaraan PON IX adalah puncak bagi Amang mengukir prestasi. Dua medali emas dari nomor yang sama berhasil dipersembangkan Amang pada event yang kembali digelar di Ibukota Jakarta itu. “Dua-duanya dapat juara satu,” jelas pria yang rambutnya sudah mulai memutih ini.

Yang menarik, prestasi itu diraih Amang dilalui dengan penuh keunikan. Sebab, diantara sekian atlet yang tampil di lomba itu, hanya amang yang tidak memakai alas kaki. Dan ternyata, kondisi tak bersepatu itu memang ia lakukan sejak ketika ia masih kecil. Sebelum terjun sebagai pelari profesional.

“Mau bagaimana, wong memang tidak terbiasa,” jelasnya sembari tersenyum. Bukan hanya itu. Keunikan lainnya adalah kebiasaan menggunakan ujung kaki sebagai tumpuan saat berlari, dari pada menggunakan tumit. Tidak mengherankan. Oleh beberapa pelatihnya dulu, Amang termasuk sosok pelari dengan penuh keistimewaan. (Muhammad Asad/bersambung)

Senin, 04 Mei 2009

Ke Tampuono, Tempat Keramat di Lereng Pegunungan Arjuna (3-Habis)


MEMESONA: Jalan setapak menuju kawasan Tampuono
Hembusan angin yang perlahan terasa begitu sejuk. Suara-suara binatang alas yang sesekali terdengar saling bersahutan. Diselingi aroma dupa yang harum semerbak, membuat suasana di sekitar Tampuono menjadi lebih nyaman.
Tak mengherankan, banyak pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai jujugan untuk mencari ketenangan. Suroso, warga asal Jepara, Jawa Tengah yang sempat ditemui sebelumnya adalah salah satu dari mereka. ‘Hanya’ untuk mencari ketenangan itu, dirinya rela melewatkan waktunya selama lima bulan berada di sana.
Apalagi, selain petilasan Eyang Sekutrem, juga ada beberapa lokasi yang juga bisa dipercaya sebagai wasilah untuk mencari ketenangan itu. Diantaranya, petilasan Eyang Abi Yoso. Yang terletak di sisi belakang kawasan Tampuono. Tepat di belakang bangunan pendapa.
Petilasan ini berbeda dengan petilasan yang dijumpai sebelumnya. Selain lokasinya yang berada sedikit lebih tinggi dari Eyang Sekutrem, dari segi bangunannya juga lebih besar. Perbedaan lainnya juga terletak pada model petilasan yang menyerupai kuburan. Lengkap dengan dua batu di kedua sisi ujungnya.
Berada di tempat ini memang terasa mengasyikkan. Selain jauh dari keramaian kota, juga karena suasananya yang memang cukup nyaman. Apalagi, banyak rumah-rumah kosong yang bisa dipakai sebagai tempat tinggal. Jumlahnya mencapai empat rumah.
Meski hanya terbuat dari kayu, ukuran rumah yang berjajar itu cukup besar. Sekitar 4x7 meter. Lengkap dengan amben yang biasa dipakai tempat tidur.

“Lebih, kalau hanya untuk menampung 10 orang,” ujar Andry, salah satu warga yang ikut menemani berkeliling. Biasanya, di rumah-rumah inilah, pengunjung tinggal selama beberapa hari bahkan pekan atau bulan.
Tepat di depan rumah-rumah itu, adalah pendapa Tampuno. Dengan ukuran yang nyaris sama dengan altar dan pendapa yang ada di Goa Onto Boego. Di pendapa inilah, para pengunjung kerap menggelar upacara ritual.
Tidak mengherankan, jika desain bangunannya pun sama dengan yang ada di Onto Boego itu. Selain berlantaikan keramin, tepat di tengah ruangan, terdapat empat batu yang ditanam membantuk empat simpul persegi. Sementara di tengahnya, tampak sejumlah peralatan untuk membakar dupa.
Kondisi itu benar-benar menambah kesan mistis tempat tersebut. Apalagi, di beberapa sudut Tapuono, tampak beberapa patung arca. Termasuk, sebuah arca dewa yang beraa di belakang petilasan Eyang Abi Yoso. Para pengunjung asal Bali biasa menjadikan arca ini sebagai jujug an saat berada di tempat ini.
Puas mengelilingi kawasan Tampuono, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Lesung. Rutenya, dari petilasan Eyang Sekutrem, mengikuti jalan setapak yang mengarah ke kanan. Melewati cela batang-batang pohon yang sudah berumur puluhan tahun.
Namun, pengunjung harus hati-hati. Selain banyak bebetuan licin karena tertutup lumut, terdapat sejumlah persimpangan yang memungkinkan pengunjung kesasar. Jalan yang kea rah kiri, menuju ke kawasan puncak Arjuna. Sementara yang ke kanan, menuju candi yang dimaksud.
Setengah jam berselimut semak-semak belukar, koran ini akhirnya sampai di lokasi candi. Meski tak ada papan tulisan yang menjelaskan nama lokasi itu, orang-orang menyebutkan sebagai Candi Lesung.
Sayang, struktur bangunan candi ini hampir habis. Kalau pun ada yang tersisa, adalah lempengan batu berbentuk persegi yang ditata hingga membentuk altar. Bisa jadi, dulunya ini adalah fondasi candi sebelum akhirnya seperti sekarang ini.
Satu-satunya yang mungkin dijadikan penanda akan keberadaan candi ini adalah batu panjang berukuran sekitar 1,5 meter dengan kondisi permukannya yang cekung. Lesung? Ya. Karena lesung inilah, candi ini dinamai candi lesung.
Tak jauh dari lokasi candi ini, berdiri sebuah bangunan (baca gubuk, Red) yang sangat sederhana. Terdiri dari beberapa pilar kayu dengan dinding dan atap bangunan yang terbuat dari seng. Seperti halnya rumah-rumah yang ada di Tampuono, bangunan ini juga biasa dimanfatakan pengunjung untuk menginap.
Yang menarik, adalah keberadaan tanah lapang yang berjarak sekitar 30 meter sebelah Timur dari lokasi candi. Dari lokasi itulah, pengunjung bisa menikmati sebuah pemandangan yang cukup menakjubkan.
Iringan-iringan awan putih yang cukup tebal di kawasan puncak Arjuna terasa begitu dekat. Belum lagi sejauh mata memandang, hamparan tanaman terlihat menghijau dari arah kaki pegunungan.
Dari tempat itu pula, koran ini bisa melihat situs-situs bersejarah. Diantaranya, Gumandar, Candi Lepek, Candi Semar, Makutoromo. Ini merupakan struktur di serambi muka dari halaman berikutnya lokasi itu merupakan komplek bangunan halaman muka dari halaman berikutnya.
Konon, tak kurang dari 20 arca dwarapala, yaitu penjaga bangunan suci berdiri dibangun di lokasi itu. Arca-arca itu diletakkan dengan posisi berurutan berbaris ke belakang ke sebuah titik yang lebih tinggi.
Dengan jarak pandang yang cukup jauh, kedua tempat itu terlihat cukup jelas. Dibutuhkan waktu satu setengah jam dari koran ini berdiri untuk sampai ke sana. (Muhammad As'ad)

Minggu, 03 Mei 2009

Ke Tampuono, Tempat Keramat di Lereng Arjuno (2)



TENANG: Kawasan Tampuono (dilihat dari atas). Loksinya yang tenang membuat sebagian pengunjung merasa nyaman berada di sana


MENDUNG tipis terlihat menggelayut di langit. Setengah jam berada di komplek goa Onto Boego, wartawan koran ini melanjutkan perjalanan ke Tampuono. Jaraknya, sekitar dua kali perjalanan dari pemukiman terakhir warga ke Onto Boego.

Rimbunan semak-semak tumbuh liar di sepanjang jalan yang dilalui. Ini berbeda dengan perjalanan menuju ke Onto Boego yang lebih banyak didominasi kebun kopi. Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas pertanian sumber penghasilan warga setempat.

Hamparan kebun kopi itu bukan milik warga sendiri. Melainkan, milik Perhutani yang proses penggarapannya dilakukan masyarakat sekitar hutan. Hasil pengelolaan itu dibagi, antara pengelola lahan dengan Perhutani.

Jauh di sebelah kiri, hamparan kebun teh milik PTPN XII terlihat menghijau. Area yang masuk Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang itu juga terlihat cukup luas. Serta menyejukkan mata, sekaligus jadi obat penawar penat perjalanan.

Beberapa saat kemudian sampailah langkah di sebuah tanjakan berbatu. Bisa dibilang, ini merupakan tanjakan paling tajam dalam perjalanan ke Tampuono. Di sinilah, terdapat bongkahan batu membentuk kursi. Ukurannya cukup besar, bisa dipakadi duduk 2-3 orang.

Bentuknya yang menyerupai kursi itulah, membuat warga menyebutnya sebagai batu singgasana para raja. Konon, para raja-raja besar kerajaan kuno di Jawa Timur pernah menduduki batu yang terbuat dari jenis batuan andesit itu.

Tak mengherankan pula, bagi sebagian pengunjung, keberadaan batu itu dinilai sebagai benda keramat hingga harus disucikan. Itu bisa dilihat dari dekat batu singgasana tersebut. Sisa-sisa dupa yang habis dibakar dan bunga, terlihat berserakan di atas batu itu.

Sesekali, terdengar gemericik suara air dari pipa saluran air bersih yang ada di sebelah kiri jalan. Perjalanan pun berlanjut. Dan tak terasa, usai melewati jalanan setapak yang dibuat menyerupai tangga, akhirnya sampai juga di Tampuono.
Suasana teduh menyambut di kawasan itu. Sejuk hawa dingin segar terasa menyentuh kulit.

Meski mendekati tengah hari, suasana masih terasa seperti pagi. Deretan pohon berumur puluhan bahkan mungkin ratusan tahun, berjajar cukup rapat.
Diikuti rapatnya dedaunan yang seperti tak menyisakan celah terik mentari. Desiran angin sepoi, benar-benar jadi membuat letih penat perjalanan jadi sirna. Suasananya benar ayem tenteram. Tak heran, bila konon banyak raja-raja zaman dulu yang singgah ke tempat ini.

Saat itu, tampak lelaki paro baya sedang duduk santai. Namanya Suroso. Memakai baju warna gelap serta udeng warna sama, pria asal Jepara, Jawa Tengah ini sesekali menghisap rokoknya dalam-dalam. “Monggo Mas,” sapanya.

Suroso mengaku sudah cukup lama berada di Tampuono. Sehingga banyak warga dusun terakhir yang cukup akrab dengan dirinya. Waktu lima bulan berada di tempat sepi seperti itu bukanlah masa yang sebentar. Namun Suroso mengaku masih cukup betah.
“Nanti kalau sudah waktunya baru pulang,” ujarnya. Kira-kira kapan? Suroso enggan menjelaskan kapan waktunya pulang itu tiba. Hanya dia mengisyaratkan, saat itu akan tiba ketika apa yang dicarinya di tempat tersebut sudah didapatkan.

Suroso bukanlah satu-satunya pengunjung yang menghabiskan waktunya berhari atau berbulan di Tampuono. Selain dirinya, beberapa pengunjung lain juga melakukan hal serupa. “Biasanya untuk lelakon,” terang Andry, warga yang saat itu menemani koran ini.

Setidaknya, ada beberapa tempat yang biasa dipakai para pengunjung untuk menjalani lelakon itu. Diantaranya, petilasan Eyang Sekutrem yang jaraknya hanya beberapa meter dari pintu masuk kawasan Tampuono.

Konon, pengunjung yang ingin mendapatkan berkah, harus singgah di petilasan ini lebih dulu. Jika tidak, apa yang jadi permintaannya bakal sulit terwujud. Dari luar, petilasan itu tak ubahnya bangunan makam tokoh atau sesepuh yang dituakan.

Bangunannya seperti yang biasa dijumpai di desa-desa kebanyakan. Berdinding beton, dengan lantai dan lapisan dinding yang terbuat dari keramik. Yang menarik, lapisan keramik di dinding itu ternyata masih baru.

Padahal sebelumnya, saat koran ini berkunjung pertama kali, dinding bangunan tersebut hanya berupa beton. Itupun terlihat agak rapuh. Ternyata beberapa waktu lalu, seorang warga keturunan asal Surabaya telah merenovasinya. “Dia yang mendanai pembangunan petilasan ini,” terang Andry. (muhammad asad/bersambung)

Tampuono, Tempat Keramat di Lereng Arjuno (1)


KERAMAT: Sebelum ke Tampuono, pengunjung akan menemui Goa Ontoboego. Sebagian pengunjung kerap membakar dupa di lokasi ini


Lereng Gunung Arjuna yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan ternyata memiliki sejumlah tempat keramat. Salah satunya adalah Tampuono. Bagaimana kondisi tempat yang dikeramatkan tersebut?


KONON sebagian masyarakat dahulu masih percaya, kawasan lereng gunung yang masuk Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi itu jadi tempat bersemayam para dewa. Terutama, kala agama Hindui masih menjadi ajaran yang dianut mayoritas masyarakat Jawa.

Setidaknya, jejak kepercayaan itu masih bisa dilihat hingga sekarang. Beberapa lokasi yang ada di kawasan Gunung Arjuna jadi dikenal sebagai tempat sakral (keramat). Tidak mengherankan, pada waktu tertentu, banyak warga yang mengunjungi lokasi-lokasi tersebut untuk menggelar ritual.

Terutama bagi mereka yang masih lekat dengan tradisi Kejawen. Biasanya, puncak kedatangan warga itu terjadi pada malam pergantian tahun Jawa. Atau yang akrab dengan sebutan malam Syuro. Ribuan warga dipastikan berkunjung ke lokasi itu. Sekedar meminta berkah, atau sekedar mengenang arwah para leluhur.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke Tampuono. Kunjungan ini merupakan kedua kalinya sejak 2006 silam. Nyaris tidak ada yang berubah dibanding saat saya berada di sana kali pertamanya. Wangi khas aroma dupa yang habis dibakar sesekali tercium.

Perjalanan ke Tampuono memang cukup melelahkan. Selain jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga, sekitar lima kilometer, ruas jalanan yang dilalui juga sedikit menanjak. Butuh waktu sekitar dua jam, untuk bisa sampai ke sana.

Awalnya dari Purwosari, tepatnya masuk ke jalan Pegadaian. Biasanya, rute ini bisa ditempuh dengan naik motor ojek. Usai menempuh sekitar 7 kilometer baru sampai di Desa Tambaksari. Tepatnya di Dusun Tambakwatu. Nah, dari pemukiman terakhir inilah para pengunjung harus berjalan kaki untuk sampai di Tampuono.

Sebenarnya, ada juga alternatif lain yang bisa dipakai untuk sampai lebih cepat ke sana. Yakni menggunakan motor trail atau jeep. Meski tidak bisa langsung sampai ke lokasi, tapi paling tidak bisa sampai ke Goa Onto Boego. Letaknya, di pertengahan antara pemukiman warga dengan Tampuono.

Dan, saat itu saya lebih memilih berjalan kaki. Selain memang tidak ada kendaraan yang bisa dipakai, itung-itung juga untuk olahraga. Dan bagi yang tidak pernah ke sana, akan lebih baik untuk lebih cermat. Maklum, sepanjang jalan yang dilalui, terdapat beberapa persimpangan yang memungkinkan bisa tersesat.

Beberapa saat kemudian, koran ini akhirnya sampai di komplek Goa Onto Boego. Lubang gua ini terlihat cukup sempit. Hanya cukup seukuran tubuh manusia. Karena itu, jarang pengunjung yang berani masuk ke sana. Apalagi, tempat itu memang dikenal keramat.

Satu-satunya yang biasa masuk ke sana adalah juru kunci. “Biasanya, kalau pas malam Syuroan ada yang masuk,” terang Andri, warga setempat. Beberapa bangunan permanen melengkapi komplek gua itu.

Tepat di depan pintu masuk gua, ada bangunan cungkup dengan arsitektur Jawa. Juga ada altar berkeramik yang berada di sisi kiri cungkup gua itu. Ukurannya cukup luas, sekitar 6,5x6,5 meter.

Oleh mereka yang datang, altar ini biasa dipakai ritual menaruh sesajen pada tiap malam Syuro. Juga ada satu bangunan cungkup lainnya dengan ukuran lebih kecil. Di depannya, tampak batu besar yang disebut-sebut sebagai miniatur Gunung Arjuna.
Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin menggelar ritual di tempat itu? Tidak perlu khawatir. Sebab, di komplek itu telah disediakan perlengkapan untuk melakukan ritual. Seperti membakar dupa atau yang lain.

Dan itu terlihat di kedua bangunan cungkup itu. Tampak sisa-sisa batang dupa yang baru dibakar. Aromanya semerbak bercampur aduk dengan bunga yang ditaburkan para pengunjung di bangunan tersebut. “Tiap hari selalu saja ada yang kemari,” jelas warga lainnya.

Ada lagi sebenarnya satu bangunan lain. Meski panjangnya lebih luas dibanding beberapa bangunan yang lain, namun arsitekturnya lebih sederhana. Itu bisa dilihat dari dindingnya yang terbuat dari kayu semata. Tapi juga lantainya yang tidak dikeramik.

Bangunan inilah yang biasa dimanfaatkan pengunjung atau para pendaki Gunung Arjuna untuk bersitirahat. Karena itu, pada bangunan itu juga dilengkapi tempat tidur dari tanah yang telah dicor.

Bentuknya menyerupai ranjang yang memanjang. “Tapi jarang yang isitirahat di sini karena masih di bawah,” ungkap Andry. Mereka lebih memilih beristirahat di Tampuono. Atau tempat peristirahatan lain yang banyak tersebar di lereng gunung tersebut. muhammad asad/bersambung)

Senin, 06 April 2009

Mbah Moyo, Potensi Wisata yang Terlupakan



ELOK: Pemandangan air terjun Mbah Moyo, di Dusun Krajan, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo cukup memesona. Sayang, keberadaannya belum banyak dikenal


Air terjun Mbah Moyo berada di Dusun Krajan, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Jika dari atas permukaan air laut (dpl), ketinggiannya diperkirakan mencapai sekitar 1500 meter.
Meski secara administrative berada di wilayah Kecamatan Puspo, lokasinya justru lebih dekat dengan pusat kota Kecamatan Tutur (dh. Nongkojajar). Ini karen desa di mana air terjun itu berada, berbatasan langsung dengan desa di pinggiran wilayah Kecamatan Tutur.

Lantran alasan itu pula, tidak mengherankan jika sebagian pengunjung memilih melalui Nongkojajar untuk ke sana. Selain lebih sedikit menghemat waktu, akses jalan ke air terjun itu juga yang lebih mudah dibanding melalui Puspo.

Minggu (4/5) lalu, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke air terjun tersebut. Sejuk hawa dingin khas pegunungan terasa menyapa begitu menginjakkan kaki di air terjun yang berada di kawasan pegunungan Bromo-Tengger itu. Saat itu, gumpalan mendung tipis yang berarakan terlihat memayung.

Kesan sebagai lokasi yang belum banyak terjamah oleh ‘orang luar’ begitu terasa. Selain sesekali terdengar suara binatang alasan, juga karena hamparan semak-semak yang subur menghijau. Terlebih, masih banyak tanaman bunga liar yang tumbuh di sekitar lokasi.

Jika dari Jalan Raya Surabaya-Malang, dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Yang setengah jamnya adalah untuk berjalan kaki dari kampong terakhir menuju lokasi. Maklum.

Lokasinya yang berada di balik perbukitan tidak memungkinkan untuk dicapai dengan menggunakan kendaraan. Apalagi, jaraknya pun cukup lumayan. Sekitar satu kilometer. Dengan kondisi jalan setapak yang dipenuhi semak belukar, serta sedikit berbatu.
Oleh warga, kondisi itu dimanfaatkan untuk mendapatkan rezeki tambahan. Membuka jasa penitipan sepeda motor bagi para pengunjung. Ongkosnya pun relaltif murah. Hanya seribu rupiah sekali titip.

Untuk sampai ke lokasi air terjun, pengunjung harus ekstra hati-hati. Sebab, akses jalan menuju ke sana masih berupa jalan setapak dan berada di lereng pegunungan. Selain banyak dipenuhi rumput liar, sebagian jalan juga berbatu. Hanya cukup untuk dilewati satu orang.

Belum lagi palung (jurang) pegunungan di sebelah sisi kiri jalan yang terlihat cukup curam. Saking curamnya, sampai-sampai, dari jalan setapak itu, tak terlihat dasar palung tersebut. Kondisi itu memaksa pengunjung untuk tetap memperhatikan tanah yang mereka injak agar tidak terperosok.

Kehati-hatian juga mutal diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya longsor dadakan. Sebab, akses jalan masuk yang memang berada di lereng pegunungan itu agaknya rentan terhadap longsor. Ini bisa dilihat dari banyaknya titik bekas longsor tersebut.

Tak hanya terjadi di beberapa bagian tebing yang berada di sisi kanan atas jalan. Tapi, juga di jalan yang dilewati. Bahkan, saat itu, saya juga mendapati beberapa titik jalan yang mulai retak.

“Kalau pas musim hujan begini, jarang warga yang ke sana. Takut kena longsor,” ujar salah satu warga yang ditemui sebelumnya. Alasan itu agaknya tidak terlalu berlebihan. Apalagi, kondisinya memang cukup mengkawatirkan. Dengan curah hujan yang masih cukup tinggi seperti ini, sangat mungkin terjadi longsor sewaktu-waktu.

Setengah jam berjalan, saya akhirnya sampai di lokasi yang dimaksud. Air yang terjun membentuk sebuah garis tinggi menjulang. Bersamaan dengan itu, terdengar suara kemeresek saat air yang terjun itu menyentuh tanah. Suaranya terdengar cukup khas.
Konon, jika terik matahari dalam keadaan sempurna, percikan air yang terbawa angin terlihat berwarna-warni. Sayang, keindahan itu tidak sempat saya nikmati lantaran saat itu langit cukup mendung.

Di banding air terjun yang ada di Kabupaten Pasuruan lainnya, seperti Kakek Bodo, Putuk Truno atau Baung, air terjun yang satu ini terlihat lebih menarik. Selain karena air yang terjun lebih lama lantaran tebingnya lebih tinggi, lokasi tempat air jatuh juga lebih luas.

Tak banyak pepohonan yang tumpuh di sekitarnya. Hanya ada hamparan runmput liar yang ketinggiannya tak lebih dari setengah meter. Kondisi itu memungkinkan bagi pengunjung yang ingin menginap dan mendirikan tenda di sana.

Di sela menikmati kemolekan air terjun itu, perhatian saya sempat tertuju pada gundukan tanah dengan dua batu nisan yang tertanam di ujung kedua sisi gundukan itu. Kuburan? Ya. Menurut warga sekitar, gundukan yang panjangnya tak lebih dari dua meter itu adalah makam Mbah Moyo. Tokoh yang namanya diabadikan untuk identitas air terjun tersebut.

Tidak jelas ihwal siapa sebenarnya jasad yang tertanam di balik gundukan tanah itu. Namun, berdasar cerita yang berkembang di masyarakat, ia merupakan leluhur desa yang konon hidup di zaman sebelum era penjajahan belanda.
Selain makam Mbah Moyo, sebenarnya, ada satu lagi makam yang ada di kawasan air terjun itu. Satu makam lainnya berada di pertengahan air terjun. Memanfaatkan tebing lintasan air terjun yang membentuk kursi. Yang menarik, makam tersebut tidak ditandai dengan batu nisan, tapi dengan sebatang pohon.

Berada di tempat itu memang terasa berbeda. Selain kondisinya alamnya yang memang masih terlihat asli, juga karena suasananya yang cukup tenang. Sebuah kondisi yang memiliki nilai jual tinggi jika mampu dikelola secara maksimal. (*)


Selasa, 10 Maret 2009

Dibalik Pembuatan Buku Katalog Terbesar yang Berhasil Meraih Rekor Muri


REKOR: Tampak kesibukan beberapa pelukis saat membuat buku katalog terbesar
Dibalik Pembuatan Buku Katalog Terbesar yang Berhasil Masuk Musium Rekor Indonesia (Muri)
Sempat Pesimis, Seminggu Lembur
Berkat buku catalog terbesar yang diciptakannya, Jupri Abdullah kembali berhasil mencatatkan namanya di MURI. Bagaimana suka-duka pembuatan buku yang menelan biaya jutaan rupiah itu?

MOCHAMMAD AS’ AD., Pasuruan
Di kalangan para pekerja seni di Kabupaten Pasuruan, nama Jupri Abdullah cukup familiar. Bukan hanya karena sosoknya yang memang dikenal suka humor. Tapi, juga karena ide-idenya yang cukup kreatif dan inovatif.
Sejumlah penghargaan, baik dari lembaga swasta maupun pemerintah yang pernah diraihnya cukup menjadi bukti atas kreativitas tersebut. Terakhir, adalah penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) atas karyanya, buku katalog terbesar dengan ukuran 2x2 meter.
Sabtu (7/3) lalu, Senior Manager (SM) MURI Paulus Pangka berkesempatan langsung hadir di The Taman Dayu untuk menyerahkan penghargaan itu. Selain Jupri, penghargaan itu juga diberikan kepada para pihak yang ikut mendukung pembuatan buku tersebut.
Diantaranya, The Taman Dayu City of Festival, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan. Penghargaan itu diberikan usai dilakukan verifikasi faktual atas ukuran buku yang telah dibuat itu.
Bagi Jupri, penghargaan itu bukan pertama kalinya. Sedikitnya, sudah empat penghargaan serupa juga pernah ia dapatkan. Semua penghagaan itu diraihnya berkat karya-karyanya terdahulu.
Diantaranya, lukisan kaligrafi terkecil yang dibuat dengan ukuran 0,5x0,5 sentimeter, pada tahun 2003. Ini merupakan penghargaan yang diraih Jupri untuk kali pertama. Berikutnya, adalah berkat konvoi lukisan sepanjang 100 kilometer yang digelar 2004.
Dua penghargaan itu ternyata tidak cukup bagi Jupri untuk berimprovisasi. Setahun berikutnya, pelukis yang sempat merasakan kerja sebagai jurnalis ini membuat inovasi melukis dengan media saribuah nanas. Berkat lukisannya ini pula dirinya meraih penghargaan MURI untuk ketiga kalinya.
Praktis, penghargaan atas buku catalog terbesar itu merupakan yang keempat kalinya bagi Jupri. “Sebenarnya ada satu lagi, tapi penyerahannya belum,” ungkap Jupri yang kemarin mengaku kurang fit karena kecapekan itu.
Buku itu sendiri berisi tentang data-data para pelukis yang ikut dalam pameran lukis ‘Wajah Capres 2009’ yang digelar hingga 17 Maret nanti. Meliputi judul, ukuran, serta media yang dipakai para pelukisnya. Totalnya, ada 106 nama pelukis yang ditulis di buku tersebut.
Tentu, sukses itu tidak diraih Jupri seorang diri. Ada banyak pihak yang dengan susah payah terlibat dalam proses pembuatan buku itu. Mereka adalah Pier dan Leman. Dua pekerja seni asal Batu dan Malang; juga Doyok, seorang perupa asal Tanggulangin, Sidoarjo.
Melalui kerja keras orang-orang inilah buku catalog terbesar itu akhirnya tercipta. “Saya tidak bisa membayangkan kalau misalnya tidak ada kawan-kawan ini,” ungkap Jupri yang enggan menyebut keberhasilannya itu sebagai buah atas kerja kerasnya seorang diri.
Ide pembuatan buku terbesar itu sendiri bisa merupakan spontanitas. Pasalnya, semula, pemecahan rekor itu dilakukan dengan mengarak 14 lukisan terbaik Capres Award 2009 di wilayah Kabupaten Pasuruan. Namun, karena pertimbangan lain, rencana itu pun dibatalkan.
Belakangan, setelah berdiskusi dengan beberapa seniman yang lain, Jupri kemudian memutuskan untuk membuat buku tersebut. Itu pun, tidak bisa dilakukan dengan serta merta. Minimnya anggaran dana membuat Jupri berpikir ulang untuk merealisasikan gagasannya.
Apa boleh buat. Rencana itu harus tetap dilakukan. Apalagi, pemecahan rekor itu nantinya juga dimaksudkan untuk menandai dibukanya Taman Seni (Pasar Seni) Jatim yang berlokasi di komplek The Taman Dayu: City of Festivals.
Tepat 10 hari sebelum jadwal yang telah ditentukan, berbagai kebutuhan akan pembuatan buku itu mulai didatangkan. Adalah Doyok, perupa asal Tanggulangin yang bertugas membeli kain kanvas yang akan dipakai sebagai lembaran buku.
Meski sempat kesulitan, Doyok akhirnya mendapatkan kain kanvas itu. Kain yang biasa dipakai sebagai media lukisan itu ia beli di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Surabaya. “Di sekitar sini juga ada. Tapi, kalau dalam jumlah banyak kan sulit,” ujar Doyok.
Gerak cepat pun dilakukan. Jupri dan beberapa para perupa yang lain membagi tugas. Dengan dibantu Pier, Doyok kemudian memotong kain sepanjang 50 meter itu menjadi beberapa bagian. Masing-masing potongan dibuat dengan ukuran empat meter persegi. Panjang dan lebar masing-masing berukuran dua meter.
Sementara keduanya sibuk memotong kain kanvas itu, Leman sibuk dengan tugas yang lain. Mencampur cat yang akan dipakai warna dasar isi buku. Oleh Leman, kain kanvas yang sudah dipotong itu kemudian dicat dengan warna coklat. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, prose situ dilakukan hingga beberapa kali.
Jupri sendiri juga tak kalah sibuknya. Desain yang akan dipakai sebagai isi buku belum selesai digarap. Padahal, hari pelaksanaan saat itu tinggal lima hari lagi. Kondisi itu memaksa Jupri untuk kerja lembur. Apalagi, beberapa perlengkapan yang lain seperti cetak undangan, baliho juga belum selesai dicetak.
Tak jarang, kondisi itu memaksa Jupri dkk, jarang pulang ke rumah. Kesibukan untuk menyiapkan pembuatan buku itu telah memaksa mereka untuk menginap di sekretariat. “Apa boleh buat, wong harinya sudah cukup mepet,” jelas Jupri.
Hari-hari menjelang launching buku katalog terbesar itu cukup menguras tenaga dan pikiran. Hampir tak ada waktu bagi Jupri dkk untuk sekedar beristirahat dengan normal. Kalau pun ada, itu pun tak lebih dari tiga jam. Begitu matahari terbit, mereka kembali disibukkan dengan kegiatan untuk menyelesaikan buku itu.
Sempat terjadi sebuah insiden kecil pada proses penggarapan buku itu. Ceritanya, buku itu dibuat dengan menempelkan semua cetakan lukisan beserta pemiliknya. Gambar lukisan di sebelah kiri, sementara sang pelukis ditempel di sebelah kanan.
Nah, saat itulah, gambar para pelukis sempat tertukar. Beruntung. Sebelum dilaunching, kekeliruan itu akhirnya bisa dibenahi. “Mungkin waktunya terlalu mepet jadi agak kacau,” ujar Jupri.
Pengalaman yang sedikit berbeda juga dilontarkan Pier, salah satu kolega Jupri asal Batu. Hari-hari menjelang pelaksanaan launching itu merupakan saat yang cukup melelahkan. Bagaimana tidak, dengan usianya yang sudah mencapai 59, ia rela ikut lembur untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
Kendati demikian, dirinya merasa bersyukur. Kerja-keras yang dilakukannya membuahkan hasil. Buku katalog terbesar yang berisi 25 halaman dengan ketebalan sekitar 15 sentimeter itu berhasil dibuat. “Wah, selama menjadi seniman, ini yang paling berat,” ujar perupa yang gemar memakai topi ini.
Setali tiga uang. Penjelasan yang sama juga dilontarkan Leman dan Doyok. Keduanya menolak bahwa pembuatan buku buku katalog terbesarnya itu hanya sekedar mencari sensasi.
Pembuatan itu itu, kata mereka, dilakukan untuk menyambut pembukaan pasar seni terbesar Jatim. “Potensi seni di Jatim cukup besar. Sayang, kalau tidak didukung dengan sarana yang memadai,” jelasnya. Mereka berharap, keberadaan pasar seni itu nantinya mampu menjadi wadah baru para seniman di Jatim untuk menuangkan kreativitasnya. (*)

Lagi, Raih Rekor MURI



PASURUAN-Pelukis Jupri Abdullan kembali berhasil mencatatkan namanya di Museum Rekor Indonesia (MURI). Ini menyusul keberhasilannya membuat buku catalog terbesar dengan ukuran 2x2 meter.
Kemarin, penyerahan penghargaan itu dilakukan langsung oleh Senior Manager (SM) MURI Paulus Pangka di sela pembukaan pameran ‘Wajah Capres 2009’ di Little Shanghai, The Taman Dayu City of Festivals, Pandaan. “Belum ada catalog yang dibuat dengan ukuran sebesar ini,” kata Paulus di sela penyerahan penghargaan itu.
Acara itu sendiri dimulai sekitar pukul 12. 30. Diawali dengan sajian dari grup musik akustik asal Pandaan, proses penyerahan itu disaksikan oleh ratusan pengunjung. Selain Jupri, pemberian penghargaan juga dilakukan kepada para pihak yang dinilai mendukung pembuatan karya itu.
Diantarnya, Pemkab Pasuruan, The Taman Dayu City of Festivals, serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Kemarin, mereka juga mendapat penghargaan yang sama dari lembaga nirlaba itu.
Sejatinya, kegiatan yang berlangsung hingga sore itu dijadwalkan dihadiri langsung oleh Gubernur Jatim Ir. Soekarwo. Namun, karena terjadi banjir di kawasan Beji, rencana itu pun batal. “Beliau sidak ke daerah banjir,” ujar salah satu panitia menjelaskan.
Pemecahan rekor MURI itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian pembukaan Taman Seni Jatim yang rencananya dibangun di kompleks The Taman Dayu. Ini sekaligus menandai dibukanya pameran lukis ‘Wajah Capres 2009’ yang dijadwalkan berlangsung hingga 17 Maret mendatang.
Sekitar 100 seniman dari seluruh Jatim dan tamu undangan ikut hadir dalam kegiatan itu. Diantaranya, General Manager (GM) The Taman Dayu Hendra WA, ketua umum DPP PAN Sutrisno Bachir, serta para pejabat Muspika lainnya.
Dalam sambutannya kemarin, GM The Taman Dayu Hendra WA menyambut baik kegiatan kemarin. Menurutnya, kegiatan itu merupakan bagian dari upaya membangkitkan kembali dunia di Jatim, khususnya Kabupaten Pasuruan. “Ini terobosan menarik untuk menggairahkan kembali seni di Jatim,” jelasnya.
Selama ini, masyarakat kerap menjadikan Yogyakarta, sebagai kiblat seni. Padahal, potensi yang sama juga banyak didapati bertebaran di Jatim. Karena itu, dirinya berharap agar kegiatan kemarin bisa dijadikan momentum untuk membangkitkan kembali aktivitas seni di Jatim.
Kegiatan itu sendiri berlangusung cukup meriah. Diawali dengan penampilan grup band akustik asal Pandaan, acara kemudian dilanjutkan dengan melukis on the spot The Taman Dayu. Sekitar 25 pelukis turun ambil bagian pada sesi yang digelar di depan kantor The Taman Dayu itu.

Termasuk, Ahmad Syaifuddin Al-madjid, peserta pameran termuda di pameran kali ini. Yakni, 12 tahun. Sesi ini berlangsun sekitar satu 30 menit. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan yang dilakukan langsung oleh MURI, yang dalam hal ini diwakili langsung oleh Pulus Pangka.
Bagi Jupri, penghargaan yang diraihnya itu bukan pertama kalinya. Sejumlah penghargaan serupa juga pernah ia raih. Masing-masing untuk kategori lukisan terkecil, konvoi lukisan.