Tampilkan postingan dengan label Sisi lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sisi lain. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

Amang Mulachela, Potret Lemahnya Jaminan Hidup Atlet Berprestasi (2-Habis)



MAU PENSIUN:Amang Mulachela, saat menjalani aktivitasnya sebagai petugas TPR di kawasan terminal Pandaan.


Sebuh foto berukuran postcard tampak di sela deretan piala yang berdiri di atas meja di sudut ruang tamu. Meski tampak kusam, samar masih terlihat gambar dua sosok yang saling berjabat tangan.
Tak lain, gambar sosok yang berdiri lebih rendah adalah Amang. Sementara, dalam posisi yang lebih tinggi adalah mantan Presiden RI HM. Soeharto. Menurut Amang, foto itu diambil tahun 1976. Tepat menjelang keberangkatannya mengikuti lomba atletik di Pakistan.
“Waktu itu, kami memang sempat pemitan ke presiden sebelum berangkat,” terang Amang menceritakan momen dalam foto itu. Selain para atlet yang ikut dikirim, acara pamitan itu juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara kala itu. Termasuk, mendiang istri mantan presiden.
Selain belasan keping medali yang ada di laci almamri, juga ada sebuah sepeda motor Suzuki FR yang menjadi kenangan atas keberangkatan Amang ke Pakistan itu. Satu-satunya sepeda motor Amang itu merupakan hadiah yang dari mantan bupati Pasuruan Mulyono.
Sepeda motor inilah, yang saat ini menjadi saksi bisu atas sukses yang pernah diraih Amang. Dengan sepeda motor itu pula, Amang melakoni rutinitasnya sebagai pegawai negeri golongan 2C di pos TPR kawasan terminal Pandaan.
Jeliteng sendiri bukan satu-satunya mantan bupati Pasuruan yang memberikan apresiasi atas kiprah Amang di olah raga adu cepat lari itu. Pada tahun 1978, menjelang keberangkatannya di ajang Sea Games yang berlangsung di Singapura, Amang kembali mendapat hadiah.
Kali ini, hadiah berupa emas seberat 20 gram itu diberikan oleh pengganti Mulyono, Jeliteng Sunyoto. “Waktu itu, memang cukup lumayan,” kata Amang sembari mencoba mengingat-ingat peristiwa itu.
Keberangkatan ke Singapura itu sendiri bukan hanya kedua kalinya bagi Amang. Tapi, sekaligus yang terakhir kalinya di ajang internasional. Sebab, setelah penampilannya ini, praksis, Amang sekali tampil. Itu pun di ajang PON X yang digelar di Jakarta.
Saat itu, prestasi Amang pun mulai meredup. Itu dibuktikan dengan pencapaiannya yang sebagai juara tiga dan dua di dua nomor yang ia ikuti. “Saya kan sudah mulai tua. Jadi, kalah dengan yang muda-muda,” selorohnya.
Perlahan, predikat sebagai atlet lari jarak jauh itu pun mulai ditinggalkan oleh Amang. Apalagi, menyusul prestasinya yang kian menurun, induk cabang organisasi yang menaunginya pun tidak memanggilnya lagi. “Setelah itu, saya tidak pernah lagi ikut lomba sampai sekarang,” katanya.

Nah, saat ini, di sela kesibukannya sebagai pegawai Dishub, Amang menyempatkan diri untuk melatih. Itu ia lakukan bukan semata sebagai ajang transformasi ilmu. Khususnya, di dunia balap lari. Tapi, juga untuk mencari tambahan penghasilan.
Di tengah perbincangan itu, sebuah peristiwa diluar dugaan terjadi. Faishol, 20, putra pertama Amang tiba-tiba meraung dan diikuti kejang-kejang hebat. Karuan saja, suasana yang tadinya tenang mendadak sedikit gaduh. Amang yang semula duduk kursi ruang tamu pun bergegas menghampiri.
Sekitar10 menit pemandangan itu terjadi. Usai dipijat di bagian kaki, kejang-kejang yang dialami Faishol pun sedikit mereda. “Maaf jadi seperti ini,” ujar Amang sembari sesekali meniupkan udara ke arah bagian perut putranya itu.
Di sela upayanya menenangkan putranya itu, menurut Amang, kelainan itu sudah dialami putranya sejak enam tahun terakhir. Ia mengalami gangguan saraf semenjak ibu yang juga istri pertama Amang meninggal. “Ndak tahu. Sejak ibunya meninggal, dia jadi seperti ini. Mungkin terlalu mikir,” katanya.
Amang sendiri sebenarnya sudah berupaya untuk mengobati penyakit putranya itu. Termasuk, dengan membawanya ke tempat pengobatan alternatif. Namun, upaya itu belum banyak membuahkan hasil. “Kalau pas lagi pusing, pasti begini,” imbuhnya.
Sebagai jalan terakhir, ia pun memberinya obat yang diperoleh dari dokter. Sehari dua kali. Dengan harga obat Rp 4 ribu per butir. Beruntung. Ia memiliki askes. Sehingga, ia pun tidak terlalu terbebani dengan biaya pengobatan putranya itu. “Kalau tidak ada askes ya berat juga,” jelas Amang.
Apa yang terjadi pada diri putranya itu sebagai sebuah ironi. Mengingat, bakat Amang sebagai seorang pelari itu kini mengalir pada diri putranya itu. Hal itu dibuktikan dengan dereten piala yang diraih Faisol dari berbagai event kejuaran lari yang diikutinya. Baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

Sayang, peluang untuk mengikuti jejak sang ayah itu terkendala dengan kondisi Faisol itu. “Mau bagaimana lagi. Ya harus bersabar,” ujar Amang yang mengaku tiga bulan lagi sudah memasuki masa pensiun ini.

Sekilas, dari yang pengamatan koran ini, untuk seorang mantan pelari nasional, kondisi Amang memang cukup sederhana. Statusnya sebagai pegawai petugas TPR terminal menjadi satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

Memang, saat masih aktif sebagai pelari dulu, dirinya mendapat uang pembinaan. Sebesar Rp 24 ribu per bulan. Itu pun, harus diambil ke kantor KONI di Surabaya. Namun, setelah prestasinya menurun, uang pembinaan itu tak lagi diterimanya.(Mochammad Asad)

Senin, 11 Mei 2009

Amang Mulachela, Potret Lemahnya Jaminan Hidup Atlet Berprestasi (1)


KENANGAN: Amang, bersama koleksi medali yang pernah diperolehnya.

UNTUK ukuran mantan atlet nasional, rumah Amang Malecha tergolong sederhana. Selain ukurannya relatif kecil, hanya 4 x 10 meter, kondisi rumahnya juga tak lebih baik dari rumah di sekitarnya.

Saat dikunjungi beberapa waktu lalu, (20/4), Amang terlihat santai. Seminggu lalu, pria kelahiran Pasuruan 9 Juli 1953 ini mendapat giliran masuk pagi. Sebagai pegawai di lingkungan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Pasuruan. Tepatnya, di bagian penarikan retribusi di kawasan terminal Pandaan.

Selain di rumah, sehari-harinya Amang memang berada di terminal. Seminggu masuk pagi, seminggu masuk siang. Begitu seterusnya. “Jadi, seminggu ke depan saya masuk siang,” terang Amang yang kini berusia 56 tahun itu.

Deretan piala tampak berjajar di sebuah meja kecil yang ada di sudut ruang tamu. Piala-piala itu bukan milik Amang. Tapi milik putra pertamanya, Faishol, 20, atas prestasinya di sejumlah ajang kejuaraan atltetik. Itu pun baru sebagian saja. Sisanya diletakkan di atas almari yang ada di ruang tengah.

Piala-piala itulah barangkali satu-satunya yang menarik dilihat di ruang tamu itu. Selebihnya, hanya ada satu set meja kursi yang mulai kusam. Serta satu almari dan seperangkat alat elektronik. Seperti televisi 17 inch dan VCD player yang tampak kurang terawat.

Di almari itulah, Amang menyimpan beberapa medali yang pernah diraihnya selama mengikuti kejuaraan. Baik tingkat nasional maupun internasional. Terdiri dari 13 medali emas, 2 medali perunggu dan 1 medali perak.

Saat ditunjukkan, saya sempat sedikit kaget. Sekilas, medali-medali itu seperti bukan barang berharga. Selain sudah terlepas dari gantungannya, kepingan medali itu terlihat lapuk. Udara yang lembab juga membuatnya tertutup jamur.

Padahal, dulu jelas perlu kerja keras untuk mendapatkan keeping-keping medali tersebut. “Makanya, sekarang jadi seperti ini,” ujar Amang sembari menyodorkan beberapa keping koleksi medalinya itu. Warnanya memang sudah kusam tertutup jamur.
Amang sendiri lahir dari sebuah keluarga tergolong besar. Dari tujuh saudaranya, ia paling bungsu. “Sekarang tinggal empat, termasuk saya,” ungkapnya menyebut para saudaranya itu. Tiga saudaranya itu kini tinggal di Bangil, Malang dan Pandaan.

Ketertarikan Amang dengan olah raga adu lari cepat itu sebenarnya terlihat sejak kecil. Selain menyehatkan, olah raga itu juga dinilainya lebih praktis dan murah. Artinya, tidak perlu alat lain untuk melakukan olah raga ini.

Namun, Amang sama sekali tak mengira ketertarikannya pada jenis olah raga itu akan mengantarkannya menjadi atlet nasional. Itu bermula keikutsertaannya mengikuti lomba balap lari. Mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kabupaten.

Yang membanggakan, hampir di setiap perlombaan yang diikutinya itu, Amang meraih juara pertama. Termasuk, ketika mengikuti seleksi Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) yang digelar Kabupaten Pasuruan, 1962 silam. Saat itu, Amang berhasil mengungguli peserta yang lain dalam beradu lari cepat.

Perlahan. Karir Amang sebagai pelari cepat di nomor 5.000 dan 10.000 meter itu pun kian moncer. Berbagai prestasi di ajang seleksi yang digelar di beberapa kota, seperti Malang dan Kediri berhasil ia sabet.

Akhirnya, prestasi itu mulai dilirik Pengurus Daerah Komite Olah Raga Nasional (KONI) Jatim. Amang kemudian dipanggil mewakili Jatim di ajang pesta olahraga terbesar di negeri ini, Pekan Olahraga Nasional (PON) VII yang digelar di Surabaya, tahun 1969.

Meski baru pertama kali tampil di level nasional, prestasi Amang tak terlalu mengecewakan. Putra pasangan Salim Mulachela dan Mahnunah itu berhasil menyabet juara di dua nomor lari yang diikutinya di event tersebut. Yakni di nomor 5.000 dan 10.000 meter.

Sukses yang diraih Amang pada PON VII itu membuat KONI kepincut. Pada PON berikutnya, pria yang menikah dua kali ini kembali dipanggil mewakili Jatim. Kali ini, untuk tampil pada event yang digelar di Jakarta.

Pada kejuaraan yang digelar tahun 1973 itu, lagi-lagi prestasi gemilang diraih Amang. Dia berhasil menyumbangkan dua medali untuk Jatin. Satu medali emas di nomor 10.000 meter dan satu medali perak di nomor lari 5.000 meter.

Penyelenggaraan PON IX adalah puncak bagi Amang mengukir prestasi. Dua medali emas dari nomor yang sama berhasil dipersembangkan Amang pada event yang kembali digelar di Ibukota Jakarta itu. “Dua-duanya dapat juara satu,” jelas pria yang rambutnya sudah mulai memutih ini.

Yang menarik, prestasi itu diraih Amang dilalui dengan penuh keunikan. Sebab, diantara sekian atlet yang tampil di lomba itu, hanya amang yang tidak memakai alas kaki. Dan ternyata, kondisi tak bersepatu itu memang ia lakukan sejak ketika ia masih kecil. Sebelum terjun sebagai pelari profesional.

“Mau bagaimana, wong memang tidak terbiasa,” jelasnya sembari tersenyum. Bukan hanya itu. Keunikan lainnya adalah kebiasaan menggunakan ujung kaki sebagai tumpuan saat berlari, dari pada menggunakan tumit. Tidak mengherankan. Oleh beberapa pelatihnya dulu, Amang termasuk sosok pelari dengan penuh keistimewaan. (Muhammad Asad/bersambung)