Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Mei 2009

Mendaki Puncak Welirang (Belerang)





Pagi itu (Jumat, 8/5) jam dinding menunjuk pukul 09. 00. Usai melapor kepada petugas di pintu masuk, pendakian ke puncak Welirang pun dimulai. Sejuk hawa pegunungan terasa menusuk tulang.

Ada tujuh orang yang ikut dalam perjalanan ke puncak gunung yang memiliki ketinggian 3. 156 diatas permukaan laut (dpl) itu. Selain saya, ada juga manager community development Yayasan Kaliandra, Fathurrohman, tiga mahasiswa Pecinta Alam (PA) Universitas Yudharta Pasuruan.

Juga ada Arno Subali, salah satu tokoh masyarakat Tretes, Prigen, serta seorang peserta rombongan lain.

Perjalanan berlangsung dengan penuh semangat. Maklum, selain ketiga mahasiswa itu, pendakian ini merupakan yang pertama kalinya. Karena itu, meski harus membawa perlengkapan yang cukup berat, kami cukup menikmatinya.

Ada tiga titik yang sebenarnya bisa dijadikan sebagai pintu masuk ke puncak. Selain Tretes –yang kebetulan kami pilih sebagai lokasi start- para pendaki juga bisa melalui Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi. Atau juga melalui Yayasan Kaliandra, di Dusun Gamoh, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.

Kebanyakan, para pendaki memilih Tretes sebagai pintu masuk. Termasuk kami. Meski memakan waktu sedikit lebih lama, namun, rutenya lebih mudah untuk ditempuh. Bahkan, bagi para pendaki pemula sekalipun.

Perjalanan kami lalui dengan penuh suka cita. Maklum, selain ketiga mahasiswa itu, ini merupakan pertama kalinya. Yang terbayang saat itu hanya keelokan puncak Welirang dengan hamparan warna hijau sejauh mata memandang. Membayangkan kepulan asap dari tambang belerang, kami pun ingin cepat-cepat sampai ke sana.

Hamparan kebun kopi yang banyak dijumpai di sepanjang jalan. Setengah jam berjalan, perjalanan akhirnya sempai di sebuah pos perbatasan. Yang menandai perbatasan hutan wilayah Perhutani dan kawasan hutan Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soerjo.

Di bawah pos tersebut, adalah kawasan hutan wilayah Perhutani. Perusahaan plat merah yang diberi tugas untuk mengelola hutan. Di atasnya, adalah kawasan hutan Tahura. Selain pisang, hampir tak ada tanaman produktif di sana. Karena kawasan itu hanya berisi pepohonan lindung.

Dari tempat kami berdiri, panorama sekitar terasa begitu memesona. Terlebih, ketika kami mengarahkan pandangan ke lereng perbukitan. Kawasan pemukiman yang tampak dari tempat kami berdiri terlihat begitu kecil. Menimbulkan kesan tersendiri bagi yang melihatnya.

Tiga jam lebih telah kami lewati. Perjalanan akhirnya sampai di kawasan gunung Limas. Yang berada tepat di ketinggian 1.530 dpl. Rombongan kemudian menyempatkan diri beristirahat sebentar. Sekedar menikmati pemandangan di bawah sekitar pegunungan yang mulai terlihat elok.

Dari kejauhan, suara gesekan dedaunan yang tertiup angin menimbulkan kesan tersendiri. Sayup-sayup, suaranya terdengar riuh. Seperti suara Kereta Api (KA) yang sedang berjalan. Karena itu, tidak sedikit pula yang mengaitkan suara itu dengan hal-hal yang berbau mitos.

Pukul 13. 00, rombongan kemudian sampai di kop-kopan. Tempat ini biasa dipakai oleh para pendaki untuk berisitirahat serta mengisi air untuk perbekalan selama perjalanan.

Yang menarik, adalah nama yang dipakai untuk menyebut tempat itu, kop-kopan. Nama itu merujuk pada kebiasaan para pendaki yang biasa ngokop (minum dengan menggunakan dua telapak tangan) di mata air yang ada di lokasi setempat.

Karena kebiasaan itulah, orang-orang kemudian menyebutnya sebagai kop-kopan (tempat ngokop, Red). “Biasanya, begitu sampai di sini, para pendaki sukanya langsung ngokop,” ujar Arno Subali, tokoh masyarakat Tretes yang ikut dalam rombongan itu.

Siang itu, cuaca terlihat cukup cerah. Memanfaatkan sebuah batu besar yang ada di tengah lokasi itu, Radar Bromo mendapati pemandangan yang sungguh menarik. Di sudut kiri sebelah utara, tampak puncak gunung Penanggungan yang terlihat gagah. Sementara awan putih terlihat bergulung-gulung di atas kepala.

Setengah jam kemudian, perjalanan menuju puncak Welirang pun dilanjutkan. Dari titik ini, jalanan terasa semakin berat. Batu-batu seukuran kepala manusia memenuhi jalan selebar tiga meter itu.

Sebenarnya, ada juga cara lebih cepat yang bisa ditempuh untuk melakukan perjalanan ke puncak ini. Yakni, dengan menumpang kendaraan pengakut belerang (jeep). Namun, pada hari Jumat, mereka biasanya libur. Termasuk, aktivitas penambangan belerang itu.

Itu pun, pendaki yang menumbang harus memiliki keberanian tinggi. Kondisi jalan yang berbatu dengan kondisi sekeliling jalan berupa jurang, memincu adrenalin dari para penumpang. Karena itu, mereka yang anti dengan goncangan kendaraan, lebih memilih untuk berjalan kaki.

Hampir delapan jam lamanya perjalanan kami lalui. Tepat pukul 18. 00, rombongan akhirnya sampai di pondokan. Suasana begitu sepi. Hanya ada suara burung dan binatang alas yang sesekali terdengar dari kejauhan.

Sehari-hari, lokasi itu biasanya selalu ramai. Setidaknya, terdapat 30-an penambang belerang yang sehari-harinya tinggal di tempat itu. Seminggu sekali, tiap malam Jumat, mereka baru ‘turun gunung’. Sekedar nyambangi keluarga, atau recharger perbekalan.

Keberadaan kompleks pondokan itu sendiri cukup menarik. Terdiri dari sekitar 15 unit rumah dengan model yang cukup sederhana. Selain ukurannya yang tak seberapa tinggi, atap bangunannya juga terbuajt dari ilalang. Ukuran bangunan yang rata-rata kecil dan tak seberapa tinggi itu sengaja didesain agar udara di dalam lebih hangat.

Tanpa terasa, hari telah berganti gelap. Suasana terasa begitu sunyi. Malam itu, rombongan kemudian memutuskan untuk mendirikan tenda di lembah Kijang. berinisiatif mendirikan tenda di kawasan lembah Kijang. Sebuah tanah lapang yang ada di tenggara lokasi pondokan.

Usai beristirahat beberapa jam, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak Welirang. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke puncak dengan ketinggal 3.156 dpl itu.

Tiga jam kemudian, kami pun akhirbnya sampai. Rasa lelah, capek yang sempat meliputi diri terasa sirna begitu sampai di lokasi yang berupapa tanah cadas itu. Suasananya begitu memesona. Tebaran warga kuning keemasan terlihat memudar di langit sebelah Timur.

Sebentar kemudian, sang surya mulai terlihat mengintip. Panorama menjadi lebih eksotis. Pancaran sinar matahari yang terpantul dari perairan selat Madura membuat suasana terasa lebih indah. Membuat dada berdecak kagum.

Bahkan, terasa lebih indah dibanding ketika menikmati sunrise dari lokasi lain. Terlebih, dari lokasi itu, para pendaki juga bisa menikmati pucuk pegunungan yang berada di sekitar.

Seperti Penanggungan, Ringgit, hingga deretan pegunungan Bromo-Semeru. Gunung-gunung itu bisa dilihat dengan jarak pandang yang cukup dekat. Atau Arjuna. Yang bisa ditempuh hanya dengan perjalanan sekitar empat jam dari puncak Welirang.

Berada di puncak Welirang, dengan ketinggian yang mencapai 3156 dpl memang seperti berada di belahan dunia lain. Sebuah dunia yang mampu memberikan keindahan, ketentraman dan kenyamanan.

Namun, kondisi itu tidak bisa berlangsung lama. Terik matahari yang mulai menyengat. Ditambah asap belerang yang mulai terasa menyesakkan, kami pun terpaksa kembali turun. Apalagi, saat itu, sebagian dari rombongan mulai terserang gejala mountainsigness.

Sebuah kondisi yang diakibatkan oleh menipisnya kadar udara di puncak pegunungan. Serangan itu biasa terjadi di atas gunung yang memiliki ketinggian di atas 3000 dpl.

Para pendaki yang terserang penyakit ini, biasanya akan mengalami kantuk hebat. Biasanya, dengan asumsi kecapekan, banyak diantara pendaki yang tidak menyadari hal itu. “Dan, jika itu dibiarkan, mereka (pendaki) bisa sampai kehilangan kesadaran,” terang Masud. (*)

Senin, 04 Mei 2009

Ke Tampuono, Tempat Keramat di Lereng Pegunungan Arjuna (3-Habis)


MEMESONA: Jalan setapak menuju kawasan Tampuono
Hembusan angin yang perlahan terasa begitu sejuk. Suara-suara binatang alas yang sesekali terdengar saling bersahutan. Diselingi aroma dupa yang harum semerbak, membuat suasana di sekitar Tampuono menjadi lebih nyaman.
Tak mengherankan, banyak pengunjung yang menjadikan tempat ini sebagai jujugan untuk mencari ketenangan. Suroso, warga asal Jepara, Jawa Tengah yang sempat ditemui sebelumnya adalah salah satu dari mereka. ‘Hanya’ untuk mencari ketenangan itu, dirinya rela melewatkan waktunya selama lima bulan berada di sana.
Apalagi, selain petilasan Eyang Sekutrem, juga ada beberapa lokasi yang juga bisa dipercaya sebagai wasilah untuk mencari ketenangan itu. Diantaranya, petilasan Eyang Abi Yoso. Yang terletak di sisi belakang kawasan Tampuono. Tepat di belakang bangunan pendapa.
Petilasan ini berbeda dengan petilasan yang dijumpai sebelumnya. Selain lokasinya yang berada sedikit lebih tinggi dari Eyang Sekutrem, dari segi bangunannya juga lebih besar. Perbedaan lainnya juga terletak pada model petilasan yang menyerupai kuburan. Lengkap dengan dua batu di kedua sisi ujungnya.
Berada di tempat ini memang terasa mengasyikkan. Selain jauh dari keramaian kota, juga karena suasananya yang memang cukup nyaman. Apalagi, banyak rumah-rumah kosong yang bisa dipakai sebagai tempat tinggal. Jumlahnya mencapai empat rumah.
Meski hanya terbuat dari kayu, ukuran rumah yang berjajar itu cukup besar. Sekitar 4x7 meter. Lengkap dengan amben yang biasa dipakai tempat tidur.

“Lebih, kalau hanya untuk menampung 10 orang,” ujar Andry, salah satu warga yang ikut menemani berkeliling. Biasanya, di rumah-rumah inilah, pengunjung tinggal selama beberapa hari bahkan pekan atau bulan.
Tepat di depan rumah-rumah itu, adalah pendapa Tampuno. Dengan ukuran yang nyaris sama dengan altar dan pendapa yang ada di Goa Onto Boego. Di pendapa inilah, para pengunjung kerap menggelar upacara ritual.
Tidak mengherankan, jika desain bangunannya pun sama dengan yang ada di Onto Boego itu. Selain berlantaikan keramin, tepat di tengah ruangan, terdapat empat batu yang ditanam membantuk empat simpul persegi. Sementara di tengahnya, tampak sejumlah peralatan untuk membakar dupa.
Kondisi itu benar-benar menambah kesan mistis tempat tersebut. Apalagi, di beberapa sudut Tapuono, tampak beberapa patung arca. Termasuk, sebuah arca dewa yang beraa di belakang petilasan Eyang Abi Yoso. Para pengunjung asal Bali biasa menjadikan arca ini sebagai jujug an saat berada di tempat ini.
Puas mengelilingi kawasan Tampuono, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Lesung. Rutenya, dari petilasan Eyang Sekutrem, mengikuti jalan setapak yang mengarah ke kanan. Melewati cela batang-batang pohon yang sudah berumur puluhan tahun.
Namun, pengunjung harus hati-hati. Selain banyak bebetuan licin karena tertutup lumut, terdapat sejumlah persimpangan yang memungkinkan pengunjung kesasar. Jalan yang kea rah kiri, menuju ke kawasan puncak Arjuna. Sementara yang ke kanan, menuju candi yang dimaksud.
Setengah jam berselimut semak-semak belukar, koran ini akhirnya sampai di lokasi candi. Meski tak ada papan tulisan yang menjelaskan nama lokasi itu, orang-orang menyebutkan sebagai Candi Lesung.
Sayang, struktur bangunan candi ini hampir habis. Kalau pun ada yang tersisa, adalah lempengan batu berbentuk persegi yang ditata hingga membentuk altar. Bisa jadi, dulunya ini adalah fondasi candi sebelum akhirnya seperti sekarang ini.
Satu-satunya yang mungkin dijadikan penanda akan keberadaan candi ini adalah batu panjang berukuran sekitar 1,5 meter dengan kondisi permukannya yang cekung. Lesung? Ya. Karena lesung inilah, candi ini dinamai candi lesung.
Tak jauh dari lokasi candi ini, berdiri sebuah bangunan (baca gubuk, Red) yang sangat sederhana. Terdiri dari beberapa pilar kayu dengan dinding dan atap bangunan yang terbuat dari seng. Seperti halnya rumah-rumah yang ada di Tampuono, bangunan ini juga biasa dimanfatakan pengunjung untuk menginap.
Yang menarik, adalah keberadaan tanah lapang yang berjarak sekitar 30 meter sebelah Timur dari lokasi candi. Dari lokasi itulah, pengunjung bisa menikmati sebuah pemandangan yang cukup menakjubkan.
Iringan-iringan awan putih yang cukup tebal di kawasan puncak Arjuna terasa begitu dekat. Belum lagi sejauh mata memandang, hamparan tanaman terlihat menghijau dari arah kaki pegunungan.
Dari tempat itu pula, koran ini bisa melihat situs-situs bersejarah. Diantaranya, Gumandar, Candi Lepek, Candi Semar, Makutoromo. Ini merupakan struktur di serambi muka dari halaman berikutnya lokasi itu merupakan komplek bangunan halaman muka dari halaman berikutnya.
Konon, tak kurang dari 20 arca dwarapala, yaitu penjaga bangunan suci berdiri dibangun di lokasi itu. Arca-arca itu diletakkan dengan posisi berurutan berbaris ke belakang ke sebuah titik yang lebih tinggi.
Dengan jarak pandang yang cukup jauh, kedua tempat itu terlihat cukup jelas. Dibutuhkan waktu satu setengah jam dari koran ini berdiri untuk sampai ke sana. (Muhammad As'ad)

Minggu, 03 Mei 2009

Ke Tampuono, Tempat Keramat di Lereng Arjuno (2)



TENANG: Kawasan Tampuono (dilihat dari atas). Loksinya yang tenang membuat sebagian pengunjung merasa nyaman berada di sana


MENDUNG tipis terlihat menggelayut di langit. Setengah jam berada di komplek goa Onto Boego, wartawan koran ini melanjutkan perjalanan ke Tampuono. Jaraknya, sekitar dua kali perjalanan dari pemukiman terakhir warga ke Onto Boego.

Rimbunan semak-semak tumbuh liar di sepanjang jalan yang dilalui. Ini berbeda dengan perjalanan menuju ke Onto Boego yang lebih banyak didominasi kebun kopi. Tanaman kopi merupakan salah satu komoditas pertanian sumber penghasilan warga setempat.

Hamparan kebun kopi itu bukan milik warga sendiri. Melainkan, milik Perhutani yang proses penggarapannya dilakukan masyarakat sekitar hutan. Hasil pengelolaan itu dibagi, antara pengelola lahan dengan Perhutani.

Jauh di sebelah kiri, hamparan kebun teh milik PTPN XII terlihat menghijau. Area yang masuk Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang itu juga terlihat cukup luas. Serta menyejukkan mata, sekaligus jadi obat penawar penat perjalanan.

Beberapa saat kemudian sampailah langkah di sebuah tanjakan berbatu. Bisa dibilang, ini merupakan tanjakan paling tajam dalam perjalanan ke Tampuono. Di sinilah, terdapat bongkahan batu membentuk kursi. Ukurannya cukup besar, bisa dipakadi duduk 2-3 orang.

Bentuknya yang menyerupai kursi itulah, membuat warga menyebutnya sebagai batu singgasana para raja. Konon, para raja-raja besar kerajaan kuno di Jawa Timur pernah menduduki batu yang terbuat dari jenis batuan andesit itu.

Tak mengherankan pula, bagi sebagian pengunjung, keberadaan batu itu dinilai sebagai benda keramat hingga harus disucikan. Itu bisa dilihat dari dekat batu singgasana tersebut. Sisa-sisa dupa yang habis dibakar dan bunga, terlihat berserakan di atas batu itu.

Sesekali, terdengar gemericik suara air dari pipa saluran air bersih yang ada di sebelah kiri jalan. Perjalanan pun berlanjut. Dan tak terasa, usai melewati jalanan setapak yang dibuat menyerupai tangga, akhirnya sampai juga di Tampuono.
Suasana teduh menyambut di kawasan itu. Sejuk hawa dingin segar terasa menyentuh kulit.

Meski mendekati tengah hari, suasana masih terasa seperti pagi. Deretan pohon berumur puluhan bahkan mungkin ratusan tahun, berjajar cukup rapat.
Diikuti rapatnya dedaunan yang seperti tak menyisakan celah terik mentari. Desiran angin sepoi, benar-benar jadi membuat letih penat perjalanan jadi sirna. Suasananya benar ayem tenteram. Tak heran, bila konon banyak raja-raja zaman dulu yang singgah ke tempat ini.

Saat itu, tampak lelaki paro baya sedang duduk santai. Namanya Suroso. Memakai baju warna gelap serta udeng warna sama, pria asal Jepara, Jawa Tengah ini sesekali menghisap rokoknya dalam-dalam. “Monggo Mas,” sapanya.

Suroso mengaku sudah cukup lama berada di Tampuono. Sehingga banyak warga dusun terakhir yang cukup akrab dengan dirinya. Waktu lima bulan berada di tempat sepi seperti itu bukanlah masa yang sebentar. Namun Suroso mengaku masih cukup betah.
“Nanti kalau sudah waktunya baru pulang,” ujarnya. Kira-kira kapan? Suroso enggan menjelaskan kapan waktunya pulang itu tiba. Hanya dia mengisyaratkan, saat itu akan tiba ketika apa yang dicarinya di tempat tersebut sudah didapatkan.

Suroso bukanlah satu-satunya pengunjung yang menghabiskan waktunya berhari atau berbulan di Tampuono. Selain dirinya, beberapa pengunjung lain juga melakukan hal serupa. “Biasanya untuk lelakon,” terang Andry, warga yang saat itu menemani koran ini.

Setidaknya, ada beberapa tempat yang biasa dipakai para pengunjung untuk menjalani lelakon itu. Diantaranya, petilasan Eyang Sekutrem yang jaraknya hanya beberapa meter dari pintu masuk kawasan Tampuono.

Konon, pengunjung yang ingin mendapatkan berkah, harus singgah di petilasan ini lebih dulu. Jika tidak, apa yang jadi permintaannya bakal sulit terwujud. Dari luar, petilasan itu tak ubahnya bangunan makam tokoh atau sesepuh yang dituakan.

Bangunannya seperti yang biasa dijumpai di desa-desa kebanyakan. Berdinding beton, dengan lantai dan lapisan dinding yang terbuat dari keramik. Yang menarik, lapisan keramik di dinding itu ternyata masih baru.

Padahal sebelumnya, saat koran ini berkunjung pertama kali, dinding bangunan tersebut hanya berupa beton. Itupun terlihat agak rapuh. Ternyata beberapa waktu lalu, seorang warga keturunan asal Surabaya telah merenovasinya. “Dia yang mendanai pembangunan petilasan ini,” terang Andry. (muhammad asad/bersambung)

Tampuono, Tempat Keramat di Lereng Arjuno (1)


KERAMAT: Sebelum ke Tampuono, pengunjung akan menemui Goa Ontoboego. Sebagian pengunjung kerap membakar dupa di lokasi ini


Lereng Gunung Arjuna yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan ternyata memiliki sejumlah tempat keramat. Salah satunya adalah Tampuono. Bagaimana kondisi tempat yang dikeramatkan tersebut?


KONON sebagian masyarakat dahulu masih percaya, kawasan lereng gunung yang masuk Desa Tambaksari, Kecamatan Purwodadi itu jadi tempat bersemayam para dewa. Terutama, kala agama Hindui masih menjadi ajaran yang dianut mayoritas masyarakat Jawa.

Setidaknya, jejak kepercayaan itu masih bisa dilihat hingga sekarang. Beberapa lokasi yang ada di kawasan Gunung Arjuna jadi dikenal sebagai tempat sakral (keramat). Tidak mengherankan, pada waktu tertentu, banyak warga yang mengunjungi lokasi-lokasi tersebut untuk menggelar ritual.

Terutama bagi mereka yang masih lekat dengan tradisi Kejawen. Biasanya, puncak kedatangan warga itu terjadi pada malam pergantian tahun Jawa. Atau yang akrab dengan sebutan malam Syuro. Ribuan warga dipastikan berkunjung ke lokasi itu. Sekedar meminta berkah, atau sekedar mengenang arwah para leluhur.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkunjung ke Tampuono. Kunjungan ini merupakan kedua kalinya sejak 2006 silam. Nyaris tidak ada yang berubah dibanding saat saya berada di sana kali pertamanya. Wangi khas aroma dupa yang habis dibakar sesekali tercium.

Perjalanan ke Tampuono memang cukup melelahkan. Selain jaraknya cukup jauh dari pemukiman warga, sekitar lima kilometer, ruas jalanan yang dilalui juga sedikit menanjak. Butuh waktu sekitar dua jam, untuk bisa sampai ke sana.

Awalnya dari Purwosari, tepatnya masuk ke jalan Pegadaian. Biasanya, rute ini bisa ditempuh dengan naik motor ojek. Usai menempuh sekitar 7 kilometer baru sampai di Desa Tambaksari. Tepatnya di Dusun Tambakwatu. Nah, dari pemukiman terakhir inilah para pengunjung harus berjalan kaki untuk sampai di Tampuono.

Sebenarnya, ada juga alternatif lain yang bisa dipakai untuk sampai lebih cepat ke sana. Yakni menggunakan motor trail atau jeep. Meski tidak bisa langsung sampai ke lokasi, tapi paling tidak bisa sampai ke Goa Onto Boego. Letaknya, di pertengahan antara pemukiman warga dengan Tampuono.

Dan, saat itu saya lebih memilih berjalan kaki. Selain memang tidak ada kendaraan yang bisa dipakai, itung-itung juga untuk olahraga. Dan bagi yang tidak pernah ke sana, akan lebih baik untuk lebih cermat. Maklum, sepanjang jalan yang dilalui, terdapat beberapa persimpangan yang memungkinkan bisa tersesat.

Beberapa saat kemudian, koran ini akhirnya sampai di komplek Goa Onto Boego. Lubang gua ini terlihat cukup sempit. Hanya cukup seukuran tubuh manusia. Karena itu, jarang pengunjung yang berani masuk ke sana. Apalagi, tempat itu memang dikenal keramat.

Satu-satunya yang biasa masuk ke sana adalah juru kunci. “Biasanya, kalau pas malam Syuroan ada yang masuk,” terang Andri, warga setempat. Beberapa bangunan permanen melengkapi komplek gua itu.

Tepat di depan pintu masuk gua, ada bangunan cungkup dengan arsitektur Jawa. Juga ada altar berkeramik yang berada di sisi kiri cungkup gua itu. Ukurannya cukup luas, sekitar 6,5x6,5 meter.

Oleh mereka yang datang, altar ini biasa dipakai ritual menaruh sesajen pada tiap malam Syuro. Juga ada satu bangunan cungkup lainnya dengan ukuran lebih kecil. Di depannya, tampak batu besar yang disebut-sebut sebagai miniatur Gunung Arjuna.
Lalu bagaimana dengan mereka yang ingin menggelar ritual di tempat itu? Tidak perlu khawatir. Sebab, di komplek itu telah disediakan perlengkapan untuk melakukan ritual. Seperti membakar dupa atau yang lain.

Dan itu terlihat di kedua bangunan cungkup itu. Tampak sisa-sisa batang dupa yang baru dibakar. Aromanya semerbak bercampur aduk dengan bunga yang ditaburkan para pengunjung di bangunan tersebut. “Tiap hari selalu saja ada yang kemari,” jelas warga lainnya.

Ada lagi sebenarnya satu bangunan lain. Meski panjangnya lebih luas dibanding beberapa bangunan yang lain, namun arsitekturnya lebih sederhana. Itu bisa dilihat dari dindingnya yang terbuat dari kayu semata. Tapi juga lantainya yang tidak dikeramik.

Bangunan inilah yang biasa dimanfaatkan pengunjung atau para pendaki Gunung Arjuna untuk bersitirahat. Karena itu, pada bangunan itu juga dilengkapi tempat tidur dari tanah yang telah dicor.

Bentuknya menyerupai ranjang yang memanjang. “Tapi jarang yang isitirahat di sini karena masih di bawah,” ungkap Andry. Mereka lebih memilih beristirahat di Tampuono. Atau tempat peristirahatan lain yang banyak tersebar di lereng gunung tersebut. muhammad asad/bersambung)

Senin, 06 April 2009

Mbah Moyo, Potensi Wisata yang Terlupakan



ELOK: Pemandangan air terjun Mbah Moyo, di Dusun Krajan, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo cukup memesona. Sayang, keberadaannya belum banyak dikenal


Air terjun Mbah Moyo berada di Dusun Krajan, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Jika dari atas permukaan air laut (dpl), ketinggiannya diperkirakan mencapai sekitar 1500 meter.
Meski secara administrative berada di wilayah Kecamatan Puspo, lokasinya justru lebih dekat dengan pusat kota Kecamatan Tutur (dh. Nongkojajar). Ini karen desa di mana air terjun itu berada, berbatasan langsung dengan desa di pinggiran wilayah Kecamatan Tutur.

Lantran alasan itu pula, tidak mengherankan jika sebagian pengunjung memilih melalui Nongkojajar untuk ke sana. Selain lebih sedikit menghemat waktu, akses jalan ke air terjun itu juga yang lebih mudah dibanding melalui Puspo.

Minggu (4/5) lalu, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke air terjun tersebut. Sejuk hawa dingin khas pegunungan terasa menyapa begitu menginjakkan kaki di air terjun yang berada di kawasan pegunungan Bromo-Tengger itu. Saat itu, gumpalan mendung tipis yang berarakan terlihat memayung.

Kesan sebagai lokasi yang belum banyak terjamah oleh ‘orang luar’ begitu terasa. Selain sesekali terdengar suara binatang alasan, juga karena hamparan semak-semak yang subur menghijau. Terlebih, masih banyak tanaman bunga liar yang tumbuh di sekitar lokasi.

Jika dari Jalan Raya Surabaya-Malang, dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Yang setengah jamnya adalah untuk berjalan kaki dari kampong terakhir menuju lokasi. Maklum.

Lokasinya yang berada di balik perbukitan tidak memungkinkan untuk dicapai dengan menggunakan kendaraan. Apalagi, jaraknya pun cukup lumayan. Sekitar satu kilometer. Dengan kondisi jalan setapak yang dipenuhi semak belukar, serta sedikit berbatu.
Oleh warga, kondisi itu dimanfaatkan untuk mendapatkan rezeki tambahan. Membuka jasa penitipan sepeda motor bagi para pengunjung. Ongkosnya pun relaltif murah. Hanya seribu rupiah sekali titip.

Untuk sampai ke lokasi air terjun, pengunjung harus ekstra hati-hati. Sebab, akses jalan menuju ke sana masih berupa jalan setapak dan berada di lereng pegunungan. Selain banyak dipenuhi rumput liar, sebagian jalan juga berbatu. Hanya cukup untuk dilewati satu orang.

Belum lagi palung (jurang) pegunungan di sebelah sisi kiri jalan yang terlihat cukup curam. Saking curamnya, sampai-sampai, dari jalan setapak itu, tak terlihat dasar palung tersebut. Kondisi itu memaksa pengunjung untuk tetap memperhatikan tanah yang mereka injak agar tidak terperosok.

Kehati-hatian juga mutal diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya longsor dadakan. Sebab, akses jalan masuk yang memang berada di lereng pegunungan itu agaknya rentan terhadap longsor. Ini bisa dilihat dari banyaknya titik bekas longsor tersebut.

Tak hanya terjadi di beberapa bagian tebing yang berada di sisi kanan atas jalan. Tapi, juga di jalan yang dilewati. Bahkan, saat itu, saya juga mendapati beberapa titik jalan yang mulai retak.

“Kalau pas musim hujan begini, jarang warga yang ke sana. Takut kena longsor,” ujar salah satu warga yang ditemui sebelumnya. Alasan itu agaknya tidak terlalu berlebihan. Apalagi, kondisinya memang cukup mengkawatirkan. Dengan curah hujan yang masih cukup tinggi seperti ini, sangat mungkin terjadi longsor sewaktu-waktu.

Setengah jam berjalan, saya akhirnya sampai di lokasi yang dimaksud. Air yang terjun membentuk sebuah garis tinggi menjulang. Bersamaan dengan itu, terdengar suara kemeresek saat air yang terjun itu menyentuh tanah. Suaranya terdengar cukup khas.
Konon, jika terik matahari dalam keadaan sempurna, percikan air yang terbawa angin terlihat berwarna-warni. Sayang, keindahan itu tidak sempat saya nikmati lantaran saat itu langit cukup mendung.

Di banding air terjun yang ada di Kabupaten Pasuruan lainnya, seperti Kakek Bodo, Putuk Truno atau Baung, air terjun yang satu ini terlihat lebih menarik. Selain karena air yang terjun lebih lama lantaran tebingnya lebih tinggi, lokasi tempat air jatuh juga lebih luas.

Tak banyak pepohonan yang tumpuh di sekitarnya. Hanya ada hamparan runmput liar yang ketinggiannya tak lebih dari setengah meter. Kondisi itu memungkinkan bagi pengunjung yang ingin menginap dan mendirikan tenda di sana.

Di sela menikmati kemolekan air terjun itu, perhatian saya sempat tertuju pada gundukan tanah dengan dua batu nisan yang tertanam di ujung kedua sisi gundukan itu. Kuburan? Ya. Menurut warga sekitar, gundukan yang panjangnya tak lebih dari dua meter itu adalah makam Mbah Moyo. Tokoh yang namanya diabadikan untuk identitas air terjun tersebut.

Tidak jelas ihwal siapa sebenarnya jasad yang tertanam di balik gundukan tanah itu. Namun, berdasar cerita yang berkembang di masyarakat, ia merupakan leluhur desa yang konon hidup di zaman sebelum era penjajahan belanda.
Selain makam Mbah Moyo, sebenarnya, ada satu lagi makam yang ada di kawasan air terjun itu. Satu makam lainnya berada di pertengahan air terjun. Memanfaatkan tebing lintasan air terjun yang membentuk kursi. Yang menarik, makam tersebut tidak ditandai dengan batu nisan, tapi dengan sebatang pohon.

Berada di tempat itu memang terasa berbeda. Selain kondisinya alamnya yang memang masih terlihat asli, juga karena suasananya yang cukup tenang. Sebuah kondisi yang memiliki nilai jual tinggi jika mampu dikelola secara maksimal. (*)