Senin, 06 April 2009

Mbah Moyo, Potensi Wisata yang Terlupakan



ELOK: Pemandangan air terjun Mbah Moyo, di Dusun Krajan, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo cukup memesona. Sayang, keberadaannya belum banyak dikenal


Air terjun Mbah Moyo berada di Dusun Krajan, Desa Palangsari, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Jika dari atas permukaan air laut (dpl), ketinggiannya diperkirakan mencapai sekitar 1500 meter.
Meski secara administrative berada di wilayah Kecamatan Puspo, lokasinya justru lebih dekat dengan pusat kota Kecamatan Tutur (dh. Nongkojajar). Ini karen desa di mana air terjun itu berada, berbatasan langsung dengan desa di pinggiran wilayah Kecamatan Tutur.

Lantran alasan itu pula, tidak mengherankan jika sebagian pengunjung memilih melalui Nongkojajar untuk ke sana. Selain lebih sedikit menghemat waktu, akses jalan ke air terjun itu juga yang lebih mudah dibanding melalui Puspo.

Minggu (4/5) lalu, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke air terjun tersebut. Sejuk hawa dingin khas pegunungan terasa menyapa begitu menginjakkan kaki di air terjun yang berada di kawasan pegunungan Bromo-Tengger itu. Saat itu, gumpalan mendung tipis yang berarakan terlihat memayung.

Kesan sebagai lokasi yang belum banyak terjamah oleh ‘orang luar’ begitu terasa. Selain sesekali terdengar suara binatang alasan, juga karena hamparan semak-semak yang subur menghijau. Terlebih, masih banyak tanaman bunga liar yang tumbuh di sekitar lokasi.

Jika dari Jalan Raya Surabaya-Malang, dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk sampai ke sana. Yang setengah jamnya adalah untuk berjalan kaki dari kampong terakhir menuju lokasi. Maklum.

Lokasinya yang berada di balik perbukitan tidak memungkinkan untuk dicapai dengan menggunakan kendaraan. Apalagi, jaraknya pun cukup lumayan. Sekitar satu kilometer. Dengan kondisi jalan setapak yang dipenuhi semak belukar, serta sedikit berbatu.
Oleh warga, kondisi itu dimanfaatkan untuk mendapatkan rezeki tambahan. Membuka jasa penitipan sepeda motor bagi para pengunjung. Ongkosnya pun relaltif murah. Hanya seribu rupiah sekali titip.

Untuk sampai ke lokasi air terjun, pengunjung harus ekstra hati-hati. Sebab, akses jalan menuju ke sana masih berupa jalan setapak dan berada di lereng pegunungan. Selain banyak dipenuhi rumput liar, sebagian jalan juga berbatu. Hanya cukup untuk dilewati satu orang.

Belum lagi palung (jurang) pegunungan di sebelah sisi kiri jalan yang terlihat cukup curam. Saking curamnya, sampai-sampai, dari jalan setapak itu, tak terlihat dasar palung tersebut. Kondisi itu memaksa pengunjung untuk tetap memperhatikan tanah yang mereka injak agar tidak terperosok.

Kehati-hatian juga mutal diperlukan untuk menghadapi kemungkinan terjadinya longsor dadakan. Sebab, akses jalan masuk yang memang berada di lereng pegunungan itu agaknya rentan terhadap longsor. Ini bisa dilihat dari banyaknya titik bekas longsor tersebut.

Tak hanya terjadi di beberapa bagian tebing yang berada di sisi kanan atas jalan. Tapi, juga di jalan yang dilewati. Bahkan, saat itu, saya juga mendapati beberapa titik jalan yang mulai retak.

“Kalau pas musim hujan begini, jarang warga yang ke sana. Takut kena longsor,” ujar salah satu warga yang ditemui sebelumnya. Alasan itu agaknya tidak terlalu berlebihan. Apalagi, kondisinya memang cukup mengkawatirkan. Dengan curah hujan yang masih cukup tinggi seperti ini, sangat mungkin terjadi longsor sewaktu-waktu.

Setengah jam berjalan, saya akhirnya sampai di lokasi yang dimaksud. Air yang terjun membentuk sebuah garis tinggi menjulang. Bersamaan dengan itu, terdengar suara kemeresek saat air yang terjun itu menyentuh tanah. Suaranya terdengar cukup khas.
Konon, jika terik matahari dalam keadaan sempurna, percikan air yang terbawa angin terlihat berwarna-warni. Sayang, keindahan itu tidak sempat saya nikmati lantaran saat itu langit cukup mendung.

Di banding air terjun yang ada di Kabupaten Pasuruan lainnya, seperti Kakek Bodo, Putuk Truno atau Baung, air terjun yang satu ini terlihat lebih menarik. Selain karena air yang terjun lebih lama lantaran tebingnya lebih tinggi, lokasi tempat air jatuh juga lebih luas.

Tak banyak pepohonan yang tumpuh di sekitarnya. Hanya ada hamparan runmput liar yang ketinggiannya tak lebih dari setengah meter. Kondisi itu memungkinkan bagi pengunjung yang ingin menginap dan mendirikan tenda di sana.

Di sela menikmati kemolekan air terjun itu, perhatian saya sempat tertuju pada gundukan tanah dengan dua batu nisan yang tertanam di ujung kedua sisi gundukan itu. Kuburan? Ya. Menurut warga sekitar, gundukan yang panjangnya tak lebih dari dua meter itu adalah makam Mbah Moyo. Tokoh yang namanya diabadikan untuk identitas air terjun tersebut.

Tidak jelas ihwal siapa sebenarnya jasad yang tertanam di balik gundukan tanah itu. Namun, berdasar cerita yang berkembang di masyarakat, ia merupakan leluhur desa yang konon hidup di zaman sebelum era penjajahan belanda.
Selain makam Mbah Moyo, sebenarnya, ada satu lagi makam yang ada di kawasan air terjun itu. Satu makam lainnya berada di pertengahan air terjun. Memanfaatkan tebing lintasan air terjun yang membentuk kursi. Yang menarik, makam tersebut tidak ditandai dengan batu nisan, tapi dengan sebatang pohon.

Berada di tempat itu memang terasa berbeda. Selain kondisinya alamnya yang memang masih terlihat asli, juga karena suasananya yang cukup tenang. Sebuah kondisi yang memiliki nilai jual tinggi jika mampu dikelola secara maksimal. (*)


Selasa, 10 Maret 2009

Dibalik Pembuatan Buku Katalog Terbesar yang Berhasil Meraih Rekor Muri


REKOR: Tampak kesibukan beberapa pelukis saat membuat buku katalog terbesar
Dibalik Pembuatan Buku Katalog Terbesar yang Berhasil Masuk Musium Rekor Indonesia (Muri)
Sempat Pesimis, Seminggu Lembur
Berkat buku catalog terbesar yang diciptakannya, Jupri Abdullah kembali berhasil mencatatkan namanya di MURI. Bagaimana suka-duka pembuatan buku yang menelan biaya jutaan rupiah itu?

MOCHAMMAD AS’ AD., Pasuruan
Di kalangan para pekerja seni di Kabupaten Pasuruan, nama Jupri Abdullah cukup familiar. Bukan hanya karena sosoknya yang memang dikenal suka humor. Tapi, juga karena ide-idenya yang cukup kreatif dan inovatif.
Sejumlah penghargaan, baik dari lembaga swasta maupun pemerintah yang pernah diraihnya cukup menjadi bukti atas kreativitas tersebut. Terakhir, adalah penghargaan dari Musium Rekor Indonesia (MURI) atas karyanya, buku katalog terbesar dengan ukuran 2x2 meter.
Sabtu (7/3) lalu, Senior Manager (SM) MURI Paulus Pangka berkesempatan langsung hadir di The Taman Dayu untuk menyerahkan penghargaan itu. Selain Jupri, penghargaan itu juga diberikan kepada para pihak yang ikut mendukung pembuatan buku tersebut.
Diantaranya, The Taman Dayu City of Festival, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pasuruan. Penghargaan itu diberikan usai dilakukan verifikasi faktual atas ukuran buku yang telah dibuat itu.
Bagi Jupri, penghargaan itu bukan pertama kalinya. Sedikitnya, sudah empat penghargaan serupa juga pernah ia dapatkan. Semua penghagaan itu diraihnya berkat karya-karyanya terdahulu.
Diantaranya, lukisan kaligrafi terkecil yang dibuat dengan ukuran 0,5x0,5 sentimeter, pada tahun 2003. Ini merupakan penghargaan yang diraih Jupri untuk kali pertama. Berikutnya, adalah berkat konvoi lukisan sepanjang 100 kilometer yang digelar 2004.
Dua penghargaan itu ternyata tidak cukup bagi Jupri untuk berimprovisasi. Setahun berikutnya, pelukis yang sempat merasakan kerja sebagai jurnalis ini membuat inovasi melukis dengan media saribuah nanas. Berkat lukisannya ini pula dirinya meraih penghargaan MURI untuk ketiga kalinya.
Praktis, penghargaan atas buku catalog terbesar itu merupakan yang keempat kalinya bagi Jupri. “Sebenarnya ada satu lagi, tapi penyerahannya belum,” ungkap Jupri yang kemarin mengaku kurang fit karena kecapekan itu.
Buku itu sendiri berisi tentang data-data para pelukis yang ikut dalam pameran lukis ‘Wajah Capres 2009’ yang digelar hingga 17 Maret nanti. Meliputi judul, ukuran, serta media yang dipakai para pelukisnya. Totalnya, ada 106 nama pelukis yang ditulis di buku tersebut.
Tentu, sukses itu tidak diraih Jupri seorang diri. Ada banyak pihak yang dengan susah payah terlibat dalam proses pembuatan buku itu. Mereka adalah Pier dan Leman. Dua pekerja seni asal Batu dan Malang; juga Doyok, seorang perupa asal Tanggulangin, Sidoarjo.
Melalui kerja keras orang-orang inilah buku catalog terbesar itu akhirnya tercipta. “Saya tidak bisa membayangkan kalau misalnya tidak ada kawan-kawan ini,” ungkap Jupri yang enggan menyebut keberhasilannya itu sebagai buah atas kerja kerasnya seorang diri.
Ide pembuatan buku terbesar itu sendiri bisa merupakan spontanitas. Pasalnya, semula, pemecahan rekor itu dilakukan dengan mengarak 14 lukisan terbaik Capres Award 2009 di wilayah Kabupaten Pasuruan. Namun, karena pertimbangan lain, rencana itu pun dibatalkan.
Belakangan, setelah berdiskusi dengan beberapa seniman yang lain, Jupri kemudian memutuskan untuk membuat buku tersebut. Itu pun, tidak bisa dilakukan dengan serta merta. Minimnya anggaran dana membuat Jupri berpikir ulang untuk merealisasikan gagasannya.
Apa boleh buat. Rencana itu harus tetap dilakukan. Apalagi, pemecahan rekor itu nantinya juga dimaksudkan untuk menandai dibukanya Taman Seni (Pasar Seni) Jatim yang berlokasi di komplek The Taman Dayu: City of Festivals.
Tepat 10 hari sebelum jadwal yang telah ditentukan, berbagai kebutuhan akan pembuatan buku itu mulai didatangkan. Adalah Doyok, perupa asal Tanggulangin yang bertugas membeli kain kanvas yang akan dipakai sebagai lembaran buku.
Meski sempat kesulitan, Doyok akhirnya mendapatkan kain kanvas itu. Kain yang biasa dipakai sebagai media lukisan itu ia beli di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, Surabaya. “Di sekitar sini juga ada. Tapi, kalau dalam jumlah banyak kan sulit,” ujar Doyok.
Gerak cepat pun dilakukan. Jupri dan beberapa para perupa yang lain membagi tugas. Dengan dibantu Pier, Doyok kemudian memotong kain sepanjang 50 meter itu menjadi beberapa bagian. Masing-masing potongan dibuat dengan ukuran empat meter persegi. Panjang dan lebar masing-masing berukuran dua meter.
Sementara keduanya sibuk memotong kain kanvas itu, Leman sibuk dengan tugas yang lain. Mencampur cat yang akan dipakai warna dasar isi buku. Oleh Leman, kain kanvas yang sudah dipotong itu kemudian dicat dengan warna coklat. Untuk memperoleh hasil yang maksimal, prose situ dilakukan hingga beberapa kali.
Jupri sendiri juga tak kalah sibuknya. Desain yang akan dipakai sebagai isi buku belum selesai digarap. Padahal, hari pelaksanaan saat itu tinggal lima hari lagi. Kondisi itu memaksa Jupri untuk kerja lembur. Apalagi, beberapa perlengkapan yang lain seperti cetak undangan, baliho juga belum selesai dicetak.
Tak jarang, kondisi itu memaksa Jupri dkk, jarang pulang ke rumah. Kesibukan untuk menyiapkan pembuatan buku itu telah memaksa mereka untuk menginap di sekretariat. “Apa boleh buat, wong harinya sudah cukup mepet,” jelas Jupri.
Hari-hari menjelang launching buku katalog terbesar itu cukup menguras tenaga dan pikiran. Hampir tak ada waktu bagi Jupri dkk untuk sekedar beristirahat dengan normal. Kalau pun ada, itu pun tak lebih dari tiga jam. Begitu matahari terbit, mereka kembali disibukkan dengan kegiatan untuk menyelesaikan buku itu.
Sempat terjadi sebuah insiden kecil pada proses penggarapan buku itu. Ceritanya, buku itu dibuat dengan menempelkan semua cetakan lukisan beserta pemiliknya. Gambar lukisan di sebelah kiri, sementara sang pelukis ditempel di sebelah kanan.
Nah, saat itulah, gambar para pelukis sempat tertukar. Beruntung. Sebelum dilaunching, kekeliruan itu akhirnya bisa dibenahi. “Mungkin waktunya terlalu mepet jadi agak kacau,” ujar Jupri.
Pengalaman yang sedikit berbeda juga dilontarkan Pier, salah satu kolega Jupri asal Batu. Hari-hari menjelang pelaksanaan launching itu merupakan saat yang cukup melelahkan. Bagaimana tidak, dengan usianya yang sudah mencapai 59, ia rela ikut lembur untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
Kendati demikian, dirinya merasa bersyukur. Kerja-keras yang dilakukannya membuahkan hasil. Buku katalog terbesar yang berisi 25 halaman dengan ketebalan sekitar 15 sentimeter itu berhasil dibuat. “Wah, selama menjadi seniman, ini yang paling berat,” ujar perupa yang gemar memakai topi ini.
Setali tiga uang. Penjelasan yang sama juga dilontarkan Leman dan Doyok. Keduanya menolak bahwa pembuatan buku buku katalog terbesarnya itu hanya sekedar mencari sensasi.
Pembuatan itu itu, kata mereka, dilakukan untuk menyambut pembukaan pasar seni terbesar Jatim. “Potensi seni di Jatim cukup besar. Sayang, kalau tidak didukung dengan sarana yang memadai,” jelasnya. Mereka berharap, keberadaan pasar seni itu nantinya mampu menjadi wadah baru para seniman di Jatim untuk menuangkan kreativitasnya. (*)

Lagi, Raih Rekor MURI



PASURUAN-Pelukis Jupri Abdullan kembali berhasil mencatatkan namanya di Museum Rekor Indonesia (MURI). Ini menyusul keberhasilannya membuat buku catalog terbesar dengan ukuran 2x2 meter.
Kemarin, penyerahan penghargaan itu dilakukan langsung oleh Senior Manager (SM) MURI Paulus Pangka di sela pembukaan pameran ‘Wajah Capres 2009’ di Little Shanghai, The Taman Dayu City of Festivals, Pandaan. “Belum ada catalog yang dibuat dengan ukuran sebesar ini,” kata Paulus di sela penyerahan penghargaan itu.
Acara itu sendiri dimulai sekitar pukul 12. 30. Diawali dengan sajian dari grup musik akustik asal Pandaan, proses penyerahan itu disaksikan oleh ratusan pengunjung. Selain Jupri, pemberian penghargaan juga dilakukan kepada para pihak yang dinilai mendukung pembuatan karya itu.
Diantarnya, Pemkab Pasuruan, The Taman Dayu City of Festivals, serta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim. Kemarin, mereka juga mendapat penghargaan yang sama dari lembaga nirlaba itu.
Sejatinya, kegiatan yang berlangsung hingga sore itu dijadwalkan dihadiri langsung oleh Gubernur Jatim Ir. Soekarwo. Namun, karena terjadi banjir di kawasan Beji, rencana itu pun batal. “Beliau sidak ke daerah banjir,” ujar salah satu panitia menjelaskan.
Pemecahan rekor MURI itu sendiri merupakan bagian dari rangkaian pembukaan Taman Seni Jatim yang rencananya dibangun di kompleks The Taman Dayu. Ini sekaligus menandai dibukanya pameran lukis ‘Wajah Capres 2009’ yang dijadwalkan berlangsung hingga 17 Maret mendatang.
Sekitar 100 seniman dari seluruh Jatim dan tamu undangan ikut hadir dalam kegiatan itu. Diantaranya, General Manager (GM) The Taman Dayu Hendra WA, ketua umum DPP PAN Sutrisno Bachir, serta para pejabat Muspika lainnya.
Dalam sambutannya kemarin, GM The Taman Dayu Hendra WA menyambut baik kegiatan kemarin. Menurutnya, kegiatan itu merupakan bagian dari upaya membangkitkan kembali dunia di Jatim, khususnya Kabupaten Pasuruan. “Ini terobosan menarik untuk menggairahkan kembali seni di Jatim,” jelasnya.
Selama ini, masyarakat kerap menjadikan Yogyakarta, sebagai kiblat seni. Padahal, potensi yang sama juga banyak didapati bertebaran di Jatim. Karena itu, dirinya berharap agar kegiatan kemarin bisa dijadikan momentum untuk membangkitkan kembali aktivitas seni di Jatim.
Kegiatan itu sendiri berlangusung cukup meriah. Diawali dengan penampilan grup band akustik asal Pandaan, acara kemudian dilanjutkan dengan melukis on the spot The Taman Dayu. Sekitar 25 pelukis turun ambil bagian pada sesi yang digelar di depan kantor The Taman Dayu itu.

Termasuk, Ahmad Syaifuddin Al-madjid, peserta pameran termuda di pameran kali ini. Yakni, 12 tahun. Sesi ini berlangsun sekitar satu 30 menit. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan yang dilakukan langsung oleh MURI, yang dalam hal ini diwakili langsung oleh Pulus Pangka.
Bagi Jupri, penghargaan yang diraihnya itu bukan pertama kalinya. Sejumlah penghargaan serupa juga pernah ia raih. Masing-masing untuk kategori lukisan terkecil, konvoi lukisan.

Kamis, 05 Februari 2009



DITUNDA: Atas banyaknya masukan agar panita memeperpanjang masa penyerahan lukisan, panita 'Capres Awards 2009' akhirnya memutuskan untuk menunda event tersebut.
Pagelaran pameran ‘Capres Award 2009’ yang semula direncanakan digelar awal Ferbuari nanti ditunda. Ini menyusul adanya permintaan dari beberapa pelukis luar kota yang meminta kepada Jupri art Gallery (JaG) untuk memperpanjang masa pendaftaran pameran itu.
Kepastian penundaan pameran yang digelar pertama kalinya itu dibenarkan Jupri Abdullah. “Setelah mempertimbangkan berbagai masukan, acara ini kita putuskan untu ditunda,” kata lelaki yang juga penggagas acara itu.
Menurut Jupri, beberapa pertimbangan itu diantaranya, para peserta yang masih belum memenuhi kuota. Dari 101 lukisan yang diharapkan masuk, baru sekitar 47 karya yang sudah terkumpul. Beberapa lukisan yang masuk itu merupakan karya dari para pelukis. Mulai dari Pasuruan, Malang, Batu, Sidoarjo, Padang hingga Makassar.
Seperti diketahui, menyambut pemilu 2009, JaG membuat gawe akbar bertaraf nasional. Yakni, dengan menggelar pameran ‘Wajah Capres 2009’. Semula, kegiatan itu yang direncanakan digelar di Little Shanghai, The Taman Dayu, Pandaan itu berlangsung selama 10 hari. Terhitung 1-10 Februari mendatang.

Belakangan, pihak penyelenggara memutuskan untuk menunda acara itu. Jupri menjelaskan, kegiatan itu merupakan bentuk apresiasi dari para seniman menyambut pesta demokrasi terakbar di negeri ini, pemilu 2009. “Yang pasti, ini apolitis,” terang perupa berambut gondrong ini.
Sementara itu, ekspekstasi tinggi ditunjukkan sejumlah seniman menyambut kegiatan itu. Ini bisa dilihat dari beberapa daerah asal lukisan yang masuk. Selain pelukis Jatim, beberapa pelukis yang tinggal di seberang pulang, seperti Makassar dan Sumatera juga turut ambil bagian untuk meramaikan kegiatan itu.
Jupri sendiri mengaku mendapat banyak masukan dari beberapa pelukis lainnya. “Intinya, mereka minta dikasih waktu untuk buat lukisan agar bisa ikut berpartisipasi,” jelas Jupri. Karena itulah, pihaknya memutuskan untuk menunda acara tersebut.
Sejauh ini, diantara beberapa lukisan yang telah masuk, wajah SBY dan Megawati serta Gus Dur (Abdurrahman Wahid) cukup banyak mendominasi. Setidaknya, ada 3-4 lukisan yang menggambarkan wajah mereka.
Yang mengejutkan, adalah wajah Sri Sultan Hamengku Buwono dan Prabowo Subiato. Setidaknya, beberapa karya yang masuk juga menggambarkan wajah mereka. “Tolong ini jangan diartikan macam-macam. Ini hanya sekedar kreativitas kawan-kawan seniman,” terang Jupri. (panitia)

Minggu, 18 Januari 2009

Lukisan Mulai Berdatangan



MULAI TIBA: Tampak salah satu petugas sekretariat sibuk menata lukisan yang tiba di skretariat.

Penyelenggaraan pameran 'Wajah Capres 2009' tinggal menunggu hari. Sebelas hari lagi, even yang melibatkan sekitar 100 pelukis itu bakal dihelat. Di Little Shanghai, The Taman Dayu: City of Festivals.

Kemarin, mendekati pelaksanaan kegiatan, sejumlah pekukis mulai mengirimkan karyanya. Setidaknya, dari catatan penulis, sekitar 10 karya telah dikirimkan para pelukis ke kantor sekretariat. Rata-rata, lukisan yang terkirim dibuat dengan ukuran 1x1 meter.

"Kita harapkan, semua lukisan sudah terkirim sebagaimana jadwal yang telah disusun," kata penggagas acara Jupri Abdullan. Yakni, 25 Januari mendatang. Atau, sekitar lima hari lagi dari sekarang.

Diantara beberapa lukisan yang telah dikirim adalah lukisan karya Pier, salah satu perupa asal Batu, Malang. Kedatangannya ke kantor sekretariat itu didampingi beberapa perupa lainnya.

Selanjutnya, seluruh lukisan yang terkumpul nantinya akan dipilih 14 lukisan terbaik. Selain diarah di seluruh ruas jalan di Kabupaten Pasuruan, 14 lukisan terpilih itu juga akan dipamerkan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Senin, 12 Januari 2009

Seniman 'Serba Bisa' Sujiwo Tejdo Siap Ramaikan


Even pameran lukis 'wajah capres 2009' yang digelar Jupri art Gallery (JaG) tak ingin dilewatkan begitu saja oleh Sujiwo Tejo. Seniman serba bisa yang khas dengan rambut gondrongnya ini menyatakan siap hadir untuk meramaikan kegiatan tersebut.

Kepastian kehadiran Sujiwo itu dibenarkan oleh Jupri Abdullah. Direktur Jag yang juga penggagas kegiatan itu. "Kemarin saya kontak dan beliau menyatakan siap untuk datang," kata Jupri.

Oleh Jupri, kedatangan Kang Tejo itu tak disiakan begitu saja. Setidaknya, untuk membuat acara yang dihelat 1-10 Februari mendatang, Jupri telah memintanya mengisi dialog bertajuk 'Obrolan Capres Bareng Sujiwo Tedjo'. Kenapa Kang Tedjo? "Saya yakin, dengan caranya menyampaikan, acara ini akan lebih menarik," ujarnya.

Menurut rencana, sesi ini akan dihelat pada hari ke-tujuh sejak pameran yang digelat di Little Shanghai, The Taman Dayu: City of Festivals. Yakni, 7 Februari mendatang.

Di kalangan seniman, sosok yang satu ini sudah tak asing lagi. Pria kelahiran Jember 31 Agustus 1962 itu kini lebih akrab dikenal sebagai dalang kontemporer. Kontribusinya di bidang seni dan kebudayaan yang dinilai anti kemapanan kian melambungkan namanya.

Berikut rangkaian acara selama pameran 1-10 Februari 2009, nanti:
1. Minggu, 1 Ferbuari : Konvoi 14 lukisan terbaik sepanjang 121 Km (mengelilingi Pasuruan) untuk memecahkan rekor MURI. Acara ini sekaligus menandai dibukanya pameran yang digelar di Little Shanghai, The Taman Dayu: City of Festivals
2. Selasa, 3 Februari : Lomba mirip wajah tokoh
3. Kamis, 5 Februari : On The Spot: Melukis Bersama Faber Castell
4. Sabtu, 7 Februari : Obrolan Capres bersama Sujiwo Tedjo
5. Minggu, 8 Ferbuari : Diskusi seni dengan tema "Songsong Pasar Seni Rupa Dunia"
6. Selasa, 10 Februari: Lomba lukis se-Jatim tingkat SMP/SMA/Umum

Panitia

Selasa, 30 Desember 2008

Target Pecahkan Rekor Muri


Penyelanggara even pameran lukis 'Wajah Capres 2009' rupanya tak main-main dengan kegiatan yang digelarnya itu. Penggagas kegiatan, Jupri Abudullan mentargetkan acara yang dihelat 1 Februari mendatang itu dicatat oleh Musium Rekor Indonesia (MURI).

Jupri yang ditemui di sekretariat panitia menyatakna, 14 karya lukis terbaik akan diarak mengelilingin wilayah Kabupaten Pasuruan. Dengan jarak tempuh sekitar 121 Kilometer.

"Ini konvoi lukisan terpanjang untuk memecahkan rekor sebelumnya, 100 kilometer," ujar Jupri yang juga seorang kurator ini. Yang menarik, rekor yang akan dipecahkan itu adalah rekornya sendiri yang berhasil tercatat di MURI pada tahun 2004.

Bagi Jupri, pemecahan rekor kali ini terasa lebih menarik. Jika pada rekor sebelumnya, konvoi dilakukan terhadap lukisan kaligrafi terkecil dengan ukuran 0,5x0,5 sentimeter. Kali ini, konvoi dilakukan terhadap 14 karya lukis terbaik.

Karena itu, sebelum konvoi ini, pihak kurator akan melakukan seleksi terhadap ratusan karya yang masuk untuk dipilih sebagai yang terbaik. "Setelah kita pilih, baru kita arak," terang lelaki asal Kejapanan, Kecamatan Gempol, Pasuruan ini.

Jupri sendiri mengaku telah mengkonfirmasikan rencananya itu kepada pihak MURI. Hasilnya, pihak MURI merespon baik rencana tersebut.